Untuk Keutuhan NKRI

Menampilkan: 1 - 10 dari 132 HASIL
Tam Arang dan Utiah Kapeh

TAHUKAH ANDA? Jadi Bupati Sajalah (2)

Batang Kapeh, Pilarbangsanews.com, —

Tam Arang dan Utiah Kapeh, disaat mato hari sedang membuntak bayang, menginformasikan kepada anda pembaca, khususnya pembaca media kami warga Pesisir Selatan dimana saja berada.

Mungkin anda belum tahu bahwa biaya makan para ODP (Orang Dalam Pemantauan) selama dalam karantina itu Pemkab Pasisir Selatan yang bayar.

“Dengan duit mana itu?” mungkin begitu ada yang bertanya

Ya itu dia duit dari hasil refucusing dan realokasi APBD itu.

Termsuk dana pokir dan uang jalan anggota DPRD Pessel itu?

Iya, uang mana lagi kalau bukan itu..

Berarti kalau pak DPRD rela uang nya direfocusing,, dapat pahala anggota DPRD itu sekarang ya Tam?

Iyalah……. Di bulan suci Ramadhan ini apapun amal perbuatan baik, akan diganjar pahala 27 darjat dibandingkan beramal pada bulan biasa.

Enak ya jadi anggota DPRD, honornya gedang, awak dapat pula beramal dengan hanya membiarkan dana pokir dan dana perjalanan dinas direfocusing.

Ya itu enaknya jadi anggota dewan itu. Untuk jadi dewan itu pilihan orangnya.

Tapi sesulit-sulitnya meraih jadi anggota dewan, lebih sulit untuk bisa jadi bupati.

Ow tentu Iyo.

Lalu kalau tak mau dana pokir dan perjalanan dinas nya direfocung, jadi bupati sajalah, tinggalkan kursi anggota DPRD itu, coba mencalon. Mana tahu nanti terpilih.

Nde padiah mah…

Ndak padiah doh, itu yang jelas jelas saja tu nyo.

Baru dana pokir dan dana perjalanan dinas dipotong pak dewan sudah heboh. Bagaiamana kalau honor disumbangkan seperti Uni Fahira Idris urang awak yang jadi senator Jakarta itu, gajinya sebagai anggota DPD-RI dia sumbangkan untuk membantu masyarakat selama wabah belum behenti.

Lai talok anggota DPRD Pessel menyumbangkan gajinya? Tam Arang bertanya.

“Ampunkan denai….. Itu untuak rang rumah dan bayar kredit lah talonsong ambiak Oto baru, ” Utiah Kapeh memahami alasan kenapa enggak talok serupa Uni Fahira itu.

“Dana perjalanan dinas itu jika disisa agak sakatek, kok nyampang nanti wabah ini mereda, dengan dana apa awak berjalan dinas? Itu salah satu sebab kenapa kawan kawan di DPRD itu minta jangan direfocung dana perjalan dinas itu.

O gitu ya.

Besok gak usah dipikirkan, dimana tumbuh disitu disaingi.

“Enggak bisa macam itu, itu gak pakai perencanaan namanya, ”

Biar aman, mestinya Bupati berempatilah dikit. Ini enggak Bupati HJ seolah olah tak paham aja, gituuuu…. (****)

Baca juga;

TAHUKAH ANDA? Perjalanan Dinas DPRD (1)

Tam Arang dan Utiah Kapeh

Lah Labiah Sapakan Jumlah Pasien Covid-19 di Pessel Tak Batambah

Batang Kapeh, PilarbangsaNews.com, — “Alhamdulillah Utiah, Kabupaten nan bahampian bana jo kampuang awak, hari ini Rabu 6/5/2020, kembali Kabag Humas dan Protokoler Setdakab Pessel Selaku Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, Rinaldi manulih di Siaran Pers, ndak ado batambah jumlah pasien covid-19. Kalau den ndak salah nan ndak ado batambah angko urang terinfeksi itu sajak hari Sanayan, sapakan nan lalu, ” begitu Tam Arang menulis pesan di WA Grupnya nya kepada Utiah Kapeh.

“Ow Alhamdulillah kalau baitu kaba baik itu mah, Tam. Sabab awak cameh juo, kalau kabupaten tetangga awak ko banyak nan ta infeksi, kabupaten awak bisa juo kanai, sabab virus itu daya migrasinyo sangat cepat dan tak terbatas ruang dan waktu, ” jawab Utiah Kapeh.

” Bana Utiah, virus Covid-19 belum ada yang tahu kapan akan berakhir, kito hanya bisa memprediksi, manakok-nakok, kadang-kadang takok takok awak tu bisa batuah dan acok pulo nan ndak sasuai, ” Udin Gagok ikut menyela.

“Din lai sehat din, ” kata Pakie Teliang lewat pesan suaranya.

” Lai Kie…, Pakie lai sehat, ” tanya Udin Gagok.

“Alhamdulillah, lai Din, ” jawab Pakie Teliang.

“Mak Gambuang, mano beliau, Din?, ” tanyo Ujang Saga.

“Ambo disiko, Jang… alah masak kolak Upiak Saga, Jang?” Mak Gambuang bertanya.

“Ko sadang bakalasau nyo di dapua, Mak Gambuang, a, ” jawab Ujang Saga.

“Ow lanjut, mak Gambuang nyimak apo nan kalian pabincangkan, ” kata Mak Gambuang.

“Dalam siaran pers nyo apo nan nyo informasi kan dek Kabag Humas Pemkab Pesisir Selatan tu lai Tiah?” tanya Tam Arang.

Ko ambo copy paste kan yo;

1. Alhamdulillah *hari ini tidak ada penambahan pasien terkonfirmasi positif Covid19*. Dengan demikian jumlah pasien yang terkonfirmasi positif Covid 19 tetap *16 (enam belas) orang*. Ke-16 pasien positif tersebut, dengan rincian sebagai berikut :
– *SEMBUH* 8 (delapan) Orang.
– *Dirawat/karantina* 8 (delapan) Orang, Dengan Rincian:
*1 (satu) orang* dirawat di RS Ahmad Mukhtar Bukit Tinggi, *3 (tiga) orang* di Balai Diklat BPSDM Prov Sumbar di Padang Besi dan *3 (tiga)* orang dikarantina di Bapelkes Provinsi Sumatera Barat, *satu orang* isolasi mandiri di rumah.

2. Pasien Dalam Pengawasan (PDP).
Total : *9 (sembilan) orang*.
Kesembilan orang PDP tersebut, *4 (empat) orang* dirawat RS M.Zen Painan, *1 (satu) orang* dirawat M.Jamil Padang, dan *4 (empat)* orang isolasi mandiri di rumah.

3. Orang Dalam Pemantauan (ODP).
– Total : *317 orang*.
– Selesai masa pemantauan : *295 orang*
– Proses Pemantauan : *22 orang*

4. Orang Tanpa Gejala (OTG).
– Total : *380 orang*
– Selesai Pemantauan : *182 orang*
– Proses pemantauan: *198 orang*

5. Pelaku perjalanan (Notifikasi).
– Total : *6.625 orang*
– Selesai Pemantauan : *5.619 orang*
– Proses pemantauan : *1.006*.

*C. Berkaitan dengan penanganan Covid 19 dapat kami sampaikan :*

1.Bupati Pesisir Selatan, menyampaikan apresiasi kepada gugus tugas percepatan penanganan Covid 19, petugas kesehatan, para camat dan wali nagari serta segenap stake holders yang telah bekerja keras dalam mencegah penyebaran viirus di tengah tengah masyarakat. Berkat kerja keras kita semua alhamdulillah sepuluh hari terakhir tidak ada kasus baru yang terkonfirmasi positif.

Meskipun demikian kita harus tetap waspada dan disiplin dalam menjaga diri dan masyarakat untuk memcegah penularan virus ini.

2. Guna mencegah penularan virus corona di Pesisir Selatan, Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, kembali mengimbau masyarakat agar mematuhi instruksi bupati Nomor: 100/08/GTC-IV/2020 tanggal 6 April 2020 yang berisikan antara lain:
a. Masyarakat wajib memakai masker bila beraktifitas di luar rumah dan memakai masker yang terbuat dari kain minimal dua lapis.
b. Bagi perantau yang pulang kampung dan pendatang yang ingin menetap sementara di Pesisir Selatan, agar melaporkan diri kepada wali nagari dan Puskesmas terdekat, serta melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

c.Kepada camat, wali nagari dan kepala kampung agar terus mensosialisasikan bahaya covid 19 dan manfaat memakai masker ketika beraktifitas di luar rumah.

3. Sehubungan dengan pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Sumatera Barat, Bupati kembali mengingatkan agar Camat dan wali nagari melakukan sosialisasi beberapa hal:

a. Seluruh masyarakat wajib memakai masker bila beraktifitas di luar rumah.
b. Mengendarai sepeda motor tidak boleh berboncengan.
c. Penumpang kendaraan roda empat hanya dibolehkan 50 % dari total penumpang.
d. Berdagang hanya diperboleh pedagang yang berjualan makanan dan sembako.
e. Beribadah tetap di rumah masing masing.

4. Pelaksanaan Karantina di Rusunawa.
Total : *149 orang*
Selesai : *149 orang*
Sedang menjalani karantina: *NIHIL*

MENGENAI BONCENGAN

“Utiah…, kalau den baok bini pai ka pasa mambali pabukoan ndak buliah den manggonciang bini den? Samo tukang ojol ndak baa? ” tanya Udin Gagok.

“Kok laki bini, ndak dapek ditagihkan doh, baa lo kamanagakan urang laki bini, salalok sa kasau sa biliak satampek tidua, urang laki bini tu lai halal. Pasiak namo a tu, kalau ado nan manangahkan ndak buliah bagonciang, ” kata Utiah Kapeh.

“Di kabupaten nan bupati nyo pak Hendrajoni ko, petugas lai bisa memahami mano nan masuak aka dan mano pulo nan batantangan dengan logika,” Labai Litak ikut menyela.

Okey lah kalau begitu, tapi awak jan gembira dulu ndak Tam, kawan kawan sadono, walupun ndak ado batambah urang posituf terpapar Covid-19, nan kito tetap waspada, ikuti seluruh aturan di PSBB itu, pakai masker jan lupo bilo kalau rumah. Cuci tangan acok acok, hindari kerumuanan da jago jarak…

Degan macam itu tak ado lai batambah urang nan positif covid-19. Nan kini sedang dirawat dan dikarantina lakeh sehat dan bisa bakumpua basamo keluarga.

Aamiin YRA….

Tam Arang dan Utiah Kapeh

Masker… Masker .. Jangan Lantaran Masker Kurang “Minyak Habih Samba Tak Lamak”

Batang Kapeh, PilarbangsaNews.com, —

“Tam…., kamano awak batanyo peninjauan realokasi APBD Pesisir Selatan itu lah selasai dikarajokan?” tanya Udin Saga kepada Tam Arang lewat aplikasi whatsapp grup mereka.

Sejak social distancing dan psycal Distancing diumumkan pemerintah sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran wabah virus covid-19, Lapau Mak Gambuang tutup, tak ada lagi warga minum kopi pagi di lepau itu.

Namun ota lamak mereka masih tetap berlanjut menggunakan aplikasi whatsapp grup. Masing masing mereka jarang ketemuan, masing masing tidak stay at home, mereka tetap beraktivitas ke ladang dan ke sawah masing-masing. Cuma komunikasi langsung face to face yang mereka batasi, walupun begitu komunikasi tetap lancar karena sepulang dari sawah dan ladang mereka berkomunikasi dengan pesawat android menggunakan jejaring sosial whatsapp.

Hari ini mereka membahas soal peninjauan APBD Pesisir Selatan 2020. Sebagai mana diketahui pemerintah pusat memberikan kebebasan kepada daerah kabupaten/kota dan provinsi untuk melakukan peninjauan terhadap APBD-nya untuk mengalokasikan dana penanggulangan covid-19.

Kabupaten Pesisir Selatan mengalokasikan dana untuk penanggulangan covid-19 sebesar Rp 75M.

Apakah dana tersebut telah mulai dicairkan? Inilah yang menjadi bahan percakapan warga ota lamak Lapau Mak Gambuang di grup whatsapp mereka.

“Baa kok itu bana nan waang tanyo Din, itu bukan urusan waang, itu urusan Pemkab Pesisir Selatan, mah, ” kata Tam Arang.

“Bana Tam…, itu ndak karajo waang tu doh din. Itu karajo pemkab Pesisir Selatan. Karajo awak sajo lah karajoan. Urusan urang jan waang urus, ” Komen Udin Gagok yang nadanya sepakat dengan Tam Arang.

Udin Gagok tak kelihatan lagi gagapnya. Karena dia mengungkapan kata kata dan kalimatnya lewat tulisan.

“Iyo pulo mah Din…, nan paralu kini wak ingekkan ka Pemkab Pesisir Selatan ko, soal masker din. Sabab den caliak banyak ibu ibu atau apak apak nan pai kapasa ndak pakai masker. Kito ndak tahu apokah warga itu enggan mambali masker ? ” kata Labai Litak yang sejak adanya himbauan MUI terpaksa tak membuka surau nya lagi untuk sholat jemaah.

“Takuik den mancaliak warga di Kabupaten Pesisir Selatan tu, Tam, ” tambah Labai Litak.

“Apo nan angku Labai takuik an,” tanya Pakie Teliang lewat pesan suara. Pakie Teliang pesawat HPnya memiliki aplikasi agak canggih. Dilengkapi sensor digital suara. Kalau orang berkirim pesan tulisan masuk ke HP Pakie Teliang, pesan tulisan tadi akan diterjemahkan oleh aplikasi yang ada di HP Pakie Teliang menjadi pesan suara.

Jadi semua pembicaraan anggota grup, Pakie Teliang dapat mengikutinya dengan sempurna.

“Yo soal masker itu. Banyak warga Pesisir Selatan ndak pakai masker, pai ka balai, batamu jo kawan, Tak menjago jarak, ” Jawab Labai Litak.

Masker ini walupun terbuat dari bahan yang sederhana, ternyata dapat mengurangi urang terpapar dari virus covid-19. Masker dapat menghambat seseorang dari paparan droplet.

“Alah bana awak batasi jarak, awak lakukan social distancing dan Physical Distancing, tapi jika tak pakai masker masih ado kekurangan awak dalam memerangi wabah covid-19, ” tambah Labai Litak.

Coba semua himbauan pemerintah itu dijalankan dengan sebaik-baiknya. Insya Allah virus covid 19 itu tak akan bisa berkutik.

“Jadi pembagian masker ko kurang di Pessel Angku Labai? ” tanya Utiah Kapeh…

“Iyo tiah…, ingekkan pak bupati Pessel itu, Utiah, bali masker tu banyak banyak jo pitih APBD itu kemudian bagikan ka warga. Saat kini ko adalah saatnyo nan tapek, selagi virus ko alun mewabah,” tulis Angku Labai.

Ang…, stek stek pak bupati se sadonyo…, nan lai kan banyak, ado sekda, ado kabag humas. Kok di Nagari ado walinagari bagai. Ka walinagari batanyo baa nyo. Kama nyo lakekkan di pak wali piti DD tu, untuak covid-19 ko?,” kata Udin Gagok dengan nada bertanya.

Bana juo tu Din. Pemkab Pessel itu maalokasikan dana Rp 75 M. Nanti dana sebanyak itu akan hilang dan tak berarti apo apo bilo virus ko mewabah.

“Lalu agar jan manyasa dikemudian hari, jan dek cekeh maagiah masker, virus tak bisa diambek dan mewabah.. Itu Samo jo minyak habih samba tak lamak.., “tulis Utiah Kapeh mengakhiri percakapan mereka…. (****)

Tam Arang dan Utiah Kapeh

Nunggu Uang Tulak

Batang Kapeh, Pilarbangsanews.com, — “Utiah…., den caliak di kabupaten tetangga awak banyak ketua partai nan mencalonkan dirinya jadi bupati dan wakil bupati, ” kata Tam Arang tadi pagi hari Kamis (5/3/2020) memulai ota lamak mereka di Lepau Mak Gambuang.

“Iyo Tiah, ado ketua Partai di kabupaten subulah namo nyo Yuang Abu, nyo ba foto jo ketua partai nyo, nyo caliak kan sebuah map antah apo isi map itu, di caption foto itu ado tulisan bahaso nyo lah dapek rekomendasi dari ketua partai nyo di pusat untuk jadi calon,” kata Ujang Saga ikut memperkuat pernyataan dari Tam Arang.

“Ancak tu mah, kalau banyak nan mancalon, warga bisa mamiliah. Dan itu tando demokrasi lai hiduik di kabupaten itu mah, ” Jawab Utiah Kapeh.

“Tapi betu lo mah Tiah a, sebagai urang nan lah mandapek rekomendasi partainyo jadi calon bupati atau wakil bupati. Alun juo ado tando tando nyo ka sato. Sabab den caliak ndak ado ciek pun balihonyo. Samantaro nan lain lah baserak serak di sepanjang jalan balihonyo, ” kata Ujang Saga heran.

“Ow… Kakalau mamacam tutu, tu ndak seseriusnyo tu doh, ” sela Udin Gagok.

“Batuah itu uda Udin, Yuang Abu tu ndak serius nyo tu doh, ko Iyo ingin satonyo pasti lah nyo buek baliho, ” kata Mas Tartok membenarkan statemen Udin Gagok.

“E…, hari kan masih lamo lei. Kini malah nan alun nyo buek, bisuak sebulan ka mamiliah nyo kajakan mambuek baliho itu banyak banyak kan bisa tu mah, ” Labai Litak mencoba mencari pembenaran.

“Iyo bisa juo macam itu, ” kata Utiah Kapeh.

“Tapi den yakin nyo ndak ka sato doh. Kok sato bana inyo main manang, sekedar jadi tandem, ” kata Ujang Saga.

Tandem tu apo tu Jang? ” tanya Tam Arang

Tandem tu kalau diibaratkan ka olah raga Tajun Payung, nyo manyalek dan basipacik arek arek ka si penerjun itu, ” jawab Ujang Saga.

“Oooow, jadi tandem mukasuik Ujang wakil yo. Iyo pulo mah, kalau jadi urang nomor satu tantu seluruh biaya inyo nan ka manangguang, kalau jadi urang nomor duo cukup modalnya popularitas (elektabilitas) buek baliho surang dan punya partai di DPRD,” kata Mas Tartok memahami.

“Yuang Abu tu elektabilitas lai bagus?” tanya Tam Arang.

“Untuk menjawab tanyo Ujang tu, paralu survey dulu, ” kata Mas Tartok.

“Tapi den yakin mah, pak Yuang Abu itu, tampil kini indak dalam hatinyo doh, sekedar bersorak sorak saja nyo tu mah. Menunggu uang tulak, ” kata Mas Tartok.

Uang tulak baa mukasuik Mas Tartok ko?” tanya Tam Arang tak mengerti.

Uang tulak itu, samo lah dengan uang mahar. Bagi nan tak punya partai duduk di DPRD tapi punya keinginan yang menggebu jadi calon Bupati, terpaksa bayar uang mahar ke pengurus partai, ” Mas Tartok menjelaskan.

“Jadi Uang tulak itu diberikan kepada pengurus yang mencalonkan diri oleh seseorang calon yang ingin diusung oleh partai yang bersangkutan? ” Ujang Saga mulai mengerti apa itu uang tulak.

“Apa ada yang akan memberikan uang tulak itu pada YUANG ABU?” tanya Tam Arang.

“Bisa ada dan bisa juga tidak, ” kata Mas Tartok.

“Lah sansai tu mah…, semuanya dibayar. Semuanya ada cost. Setelah berhasil jadi Bupati tantu fee proyek yang akan dilibas. Jika ketahuan KPK nasib lagi apes….., ” kata Labai Litak seraya menghabis sisa kopinya sampai tadadak.

Setelah si tandem tadi berhasil ikut menang dan terpilih pasangannya jadi kepala daerah. Beberapa bulan kemudian pandai pula dia bermain main dengan proyek. Kalah cepat sipenerjun dibuatnya.. Disinilah pangkal gaduah sering terjadi antara nomor 1 dan nomor 2.

“Jika anda nomor 2 sadari lah anda berhasil selamat dalam olahrga Tajun Payuang tadi karena ada si penerjun. Jadi ikuti sajalah akrobatik si penerjun, biar hubungan anda selalu harmonis……. Siapa yang bisa begitu? Pasti anda bakal laris di pilih jadi tandem, ” kata Utiah Kapeh.

“Ko ndak macam itu doh, awak tak barugi bana, tapi akok jo labo. Alun manga manga lah main tanduak jo sipak sintuang dima urang nan ka sanang? Urang berang awak malawan lo.. Siapapun itu, pasti nyo marabo. Ko ado nan saba, tak usahlah situ jadi bupati, jadi Garin musajik sajolah biar capek masuak sarugo,” kata Utiah kapeh mengakhiri ota lamak mereka pagi tadi di Lepau Mak Gambuang…

Baca juga;

Betulkah Bupati Hendrajoni Telah Berbuat Zalim?

. Tam Arang dan Utiah Kapeh

Betulkah Bupati Hendrajoni Telah Berbuat Zalim?

Sudah lebih dari satu setengah bulan ota lamak di Lepau Mak Gambuang tak pernah lagi dipublikasikan. Ada apa?

Berbagai analisa muncul di kalangan para pembaca, ada yang menyebutkan Mak Gambuang telah almarhumah, ada yang mengatakan, Tam Arang merantau lagi. Ada pula yang menginformasikan Utiah Kapeh mengalami sakit stroke.

Betulkah demikian?

Tak satupun dugaan diatas ada yang benar. Mak Gambuang yang dikabarkan sudah almarhumah dan Utiah Kapeh yang disebut terserang penyakit stroke, ternyata itu kabar bohong. Keduanya masih sehat walafiat, begitu juga Tam Arang masih ada di kampung dan dia tidak pergi kemana mana.

Lantas kenapa Ota Lamak di Lepau Mak Gambuang tak muncul di media Pilarbangsanews.com?

Apakah Lapau Mak Gambuang tutup?

Tidak…., Lepau Mak Gambuang masih tetap buka. Warga pelapau setiap pagi masih terus seperti sebelum sebelumnya. Selalu ada ota lamak pengantar minum pagi mereka membahas berbagai topik.

“Yang vacum itu adalah penulisnya, pak YY. Sudah lama beliau tak datang ke tempat kita. Baru pagi ini beliau menyumbua, kemana apak selama ini, ” kata Utiah Kapeh bertanya.

“Utiah seperti belum tahu saja sifat pak YY, kalau sudah manyumbua (muncul) langsung meloncat loncat dan kadang kadang nampak tabang tabang maraok. Kini liau lah muncul jaganlah ditanya kamana beliau selama ini. Yang perlu diucapkan ke beliau selamat datang di Lapau Mak Gambuang, ” kata Tam Arang mencoba memahami kondisi penulis ota lamak mereka.

“Iyo loh mah Utiah, ndak perlu ditanya pak YY itu doh, ” kata Udin Gagok menyela.

“Bana Utiah,” sambung Pakie Teliang. Menurut Pakie Teliang, sebaiknya kita mulai ota lamak kita sapaya nanti bisa dimuat di media Pilarbangsanews.com.

“Apa topiknya yang bagus Angku Labai ? ” Tam Arang bertanya ke Lebai Litak.

ZALIM topiknya, ” kata Labai Litak.

“Kok Zolim topiknya? ” tanya Udin Gagok yang dari tadi tak pernah muncul gagapnya kalau bicara.

Soalnya kata zolim itu sering digunakan Facebooker di kabupaten tetangga kita.

Kata mereka Bupati Hendrajoni menzalami wakilnya Rusma Yul Anwar.

“Lho… Lho.. Baa kok sampai be’etu?” tanya Mas Tartok kura kura dalam perahu.

“Iya sekarang pak wabup sedang menghadapi sidang pengrusakan hutan mangrove di Pengadilan Negeri Padang. Hari Senin (2/3/2020) pembacaan putusan tapi ditunda oleh majelis hakim dengan alasan vonis belum rampung ditulis. Sidang pembacaan vonis ditunda sampai Jumat depan, ” jawab Tam Arang.

“Apa hubungannya sidang pak wabup Rusma Yul Anwar itu dengan zalimnya Hendrajoni?” kembali Mas Tartok bertanya.

“Lantaran pak bupati lah pak wabup itu disidangkan. Kalau bukan lantaran pak bupati, ndak mungkin pak wabup itu kasusnya sampai ke pengadilan, ” kata Tam Arang

“Hukum tebang pilih, padahal yang merusak hutan mangrove bukan hanya pak Wabup, pak Wagub NA diduga juga lebih parah tingkat rusaknya dibanding dengan kerusakan oleh pak RYA. Kenapa hanya pak wabup yang disidangkan?” kata Labai Litak.

“Tunggu dulu… Kita tidak usah membahas yang lain dulu, nanti melebar kemana-mana. Mari kita fokus membahas kata zolim, ” kata Utiah Kapeh.

Menurut Utiah Kapeh dari Enklopedi yang sempat dia baca; pengertian Zalim dalam ajaran Islam adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya.

Pertanyaannya, apakah Bupati Hendrajoni yang melaporkan Wabup RYA sampai dia disidang di Pengadilan Negeri?

“Tidak.”

” Kalau tidak, lalu siapa?”

” Yang laporkan warga masyarakat, ada ninik mamaknya juga. sebab kalau Bupati yang melapor tentu Bupati hadir sebagai saksi dalam persidangan. Dalam perkara ini mana pernah Bupati hadir memberikan kesaksiannya. Itu bukti bahwa kasus itu smpai ke pengadilan bukan disebabkan oleh Bupati, ” kata Utiah Kapeh.

“Pak Bupati memang tidak nampak tapi beliau bermain dibelakang layar ?” kata Mas Tartok.

“Kita tidak boleh ikut ikut main tebak tebakan. Kita harus membiasakan diri bicara dengan fakta dan data, ” kata Utiah Kapeh.

Tapi untuk kali ini kita ikuti komentar Mas Tartok, pak Bupati main di belakang layar. OK. KALAU ITU BENAR. tapi apakah peristiwa pengrusakan itu tidak ada?

Kalau tidak ada, baru dapat dikatakan kasusnya rekayasa, dan orang yang merekayasa boleh disebut telah berlaku/berbuat zalim.

Kalau peristiwa pengrusakan itu ada apakah itu zalim??

Jangan jangan kita kita inilah yang zalim karena telah menuduh orang berbuat zalim. Dan orang yang dituduh itu adalah bupati anda sendiri. Rusak anda mah, ” Kata Utiah Kapeh mengakhiri ota lamak mereka pagi tadi. Dan mempersilahkan Labai Litak membacakan kutipan ayat suci Al-Quran berikut ini;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al Maidah: 8).

Baca juga :

Nunggu Uang Tulak

. Tam Arang dan Utiah Kapeh

Mungkin Ini Dia Calon Wakil Hendrajoni di Pilkada Pessel 2020

Batang Kapeh, PIlarbangsanews.com, — “Siapa yang akan mendampingi HJ jadi Bupati Pasisir Selatan?” kata Tam Arang mengajukan sebuah pertanyaan ketika memulai ota lamak di Lepau Mak Gabung, pagi ini Jumat 17/1/2020.

Pertanyaan itu dijawab oleh Ujang Saga. Kata Ujang Saga; Yang akan mendapangin pak HJ jadi bupati tak mungkin ada yang lain selain Buk Lisda Rawdha istri syah beliau.

“Itu lah Iya juga mah Jang, siapa lagi kalau bukan buk Lisda. Yang deyen maksud bukan itu, tapi
siapa yang akan menjadi calon wakil Bupati yang akan berpasangan dengan pak Hendrajoni? Begitu maksud deyen, Ujang, ” kata Tam Arang

Ow kalau itu yang uda Tam, tanyakan, ambo rasa kini masih menjadi teka teki dikalangan politisi lokal maupun masyarakat awam yang suka memperhatikan perkembangan proses suksesi yang akan berlangsung pada acara akbarnya yang disebut dengan alek gadang pilkada di Pesisir Selatan.

Alek gadang Pilkada Pesisir Selatan itu tak lama lagi akan berlangsung secara serentak pada bulan September yang akan datang di tahun 2020. Sampai kini kata Tam Arang masing masing bakal calon saling jaga gengsi. Merasa takut kerendahan untuk mencoba mendatangi calon lain yang akan dijadikan pasangan. Jual mahal dululah dikit. Begitu mungkin alasan kenapa masing masing belum mau saling berkunjung menawarkan diri.

“Restu partai belum bisa dipastikan. Ini juga menjadi salah satu penyebab kenapa masing masing calon itu masih gengsi menjalin komunikasi, ” kata Utiah Kapeh.

“Apalagi bakal calon yang bukan kader atau pengurus partai, kecil kemungkinan akan ada partai yang mau mengusung. Sebab setiap Partai itu pasti dia mempunyai kader yang punya keinginan dan siap bersaing dalam pilkada ” sambung mas Tartok menyela.

Dia punya partai, bahkan jadi ketua DPW di Provinsi, tapi tak punya wakil di DPRD Pessel. Bagaimana pula cerita ini, ” tanya Pakie Teliang.

“Itu sama saja posisinya dengan mereka yang mendaftar di salah satu partai tapi dia bukan dari kader partai yang bersangkutan, ” ujar Mas Tartok.

Kembali kepada pertanyaan Tam Arang diawal pembukaan tadi, siapa yang akan mendapangi pak Hendrajoni?

“Me-me-nuu-rut ter-terawangan de-deyen pak U-u-cok, ” kata Udin Gagok.

“Gak, enggak pak Ucok doh, tapi saya yakin Ustadz Hamdanus, ” kata Pakie Teliang.

“Apa alasan wa’ang Syafrizal Ucok yang akan dipilih oleh Hendrajoni, Din. Apa Ucok mau jadi wakil, kalau saya baca di media Ucok katanya siap jadi Bupati,” kata Tam Arang bertanya.

“Me-me-milih wa-wakil itu banyak pertimbangannya, sa-sa-salah sa-sa-satunya adalah tingkat elektabilitas. Apakah dia bisa memberikan kontribusi tambahan suara, dan Ucok da-da-dapat mewakili wilayah Utara dari Kabupaten Pesisir Selatan, ” kata Udin Gagok agak lancar menjelaskan alasannya kenapa nanti Hendrajoni memilih Syafrizal Ucok.

“Jadi wa’ang menilai Ucok bisa memberikan kontribusi mewakili wilayah Utara, Din?, ”

” Sepertinya begitu peta politik saat ini. Pa-pak u-uuu-cok dia berurat berakar untuk wilayah Batang Kapas, IV Jurai, Bayang dan Tarusan, ” jawab Udin Gagok yakin.

“Terus bagaimana dengan Hamdanus?” tanya Utiah Kapeh.

Pakie Telinga menjelaskan, Ustadz Hamdanus, sama dengan pak Syafrizal Ucok, sama dari utara. Dia ini dulu sekolah di MAN Salido, dan UIN (IAIN) Imam Bonjol Padang yang aktif di HMI. Jaringannya banyak. Ke Pusat dia lincah. Dia pengurus DPP PKS.

Hamdanus juga punya hubungan baik dengan Bupati HJ dan isterinya Lisda. Dan, juga punya komunikasi baik dengan orang-orang dekat HJ.

“Keunggulan Hamdanus, dia kader partai yang memiliki sistem administrasi yang baik, dan kader yang militan. Untuk keamanan suara di TPS, PKS jagonya. Dan kader PKS juga akan all-out dukung pasangan HJ-Hamdanus dengan direck selling-nya, kampanye rumah ke rumah, ” ungkap Pakie Teliang.

Seisi Lepau Mak Gambuang mengangguk angguk sperti “Balam Mau” ( Balam Mau artinya burung balam yang suka bunyi, kepala balam yang suka bunyi itu menganguk angguk.) bisa jadi anguak anggak geliang amuah….

Catatan Redaksi foto diatas bukanlah foto salah satu dari 2 nama yang disebut dalam tulisan ini. Tapi itu foto penulis cerita Tam Arang dan Utiah Kapeh..

. Tam Arang dan Utiah Kapeh

Calon Bupati/Walikota/Gubernur? Pasti Tahu Ini; “Angguak Anggak Geliang Amuah”

Batang Kapeh Pilarbangsanews.com, — Sudah lama ota lamak Tam Arang dan Utiah Kapeh tak hadir ditengah-tengah pembacanya. Kalau dihitung hitung telah lebih dari sebulan. Tepatnya sejak penulis ota lamak di Lepau Mak Gambang ini menunaikan ibadah Umrah ke Tanah Suci Mekkah al Mukarramah awal bulan Desember tahun 2019.

Sejak pulang dari Tanah Suci kenapa ya, kita jadi ogah maota di Lepau Mak Gambuang, ” kata Tam Arang, pagi tadi Minggu 11 Januari 2020.

“Kita sudah ke tanah suci memohon kepada Allah SWT, agar dosa dosa yang kita perbuat selama ini mendapat ampunanNya. Kini kalau kita kembali banyak bicara, membicarakan masalah politik, pasti akan ada kata kata setuju atau tak setuju, mendukung atau tak mendukung, ” kata Pakie Telieng.

“Menyatakan dukungan atau tidak mendukung seorang bakal calon bupati atau gubernur apakah itu termasuk dosa angku Pakie?, ” tanya Ujang Saga.

“Kalau sekedar menyatakan dukungan atau tidak mendukung ambo rasa tak masalah,” jawab Pakie Teliang.

“Lantas kapan bermasalah?, ” tanya Tam Arang.

“Masalah akan muncul jika ada calon yang berusaha melakukan kampanye hitam. Yakni dengan menciptakan isu lalu mencoba menviralkannya melalui media sosial,” ucap Pakie Teliang.

“Apa sudah muncul fenomena seperti yang angku Pakie sebutkan itu? ” tanya Tam Arang lagi.

“Sudah, ”

“Caranya?”

“Dengan membuat akun abal abal di Facebook,”

“Maksud abal abal itu apa? ”

“Akunnya punya nama tapi bukan nama dia yang ditulis,”

Tapi itu tak bakal banyak pengaruhnya, tidak akan merubah keadaan. Orangnya itu ke itu saja. Justru yang rugi itu adalah dia yang mencoba melakukan kampanye hitam.

Kampanye hitam tak laku di Sumatera Barat. Pengalaman nasional di bawah dikampung akan sulit bisa diterima oleh masyarakat kita yang homogen,” kata Pakie Teliang.

“Ho-ho-mo-mogen tu sasa-bun cucu-ci uuuu-untuak aaa-apo tu Ngku?” tanya Udin Gagok.

“Ndak sabun cuci doh pak Udin, tapi homogen itu adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu hal tersebut adalah sama baik sifat, tingkah lakunya dan karakteristiknya, ” kata Mas Tartok menjelaskan.

“Ow… De-deyen sa-sangko na-naaa-mo sa-bun tadii, ” kata Udin Gagok yang sebenarnya dia mengerti dengan istilah itu, tapi dia ingin membuat suasana menjadi lebih santai.

“Jadi kalau ingin jadi gedang di kampung, janganlah membuat isu yang belum ada pembuktian kebenarannya. Sabab bisa jadi katika kita menjelekkan si A, ada saudara sepesukuannya yang mendengar. Tentu bila kita menyebut saudaranya dia akan tersinggung. Betulkah begitu Angku Pakie? ” tanya Tam Arang

“Betul sekali. Sebab jangan dikira orang kampung kita itu setuju dan percaya saja dengan narasi dan diksi yang kita sampaikan kepada mereka.

Orang kampung kita orang yang suka menerima tamu. Untuk menghormati tamunya orang baru, mereka dengan rela mengangguk-angguk kepala tanda setuju dengan apa yang kita sampaikan.

Tapi ingat ada pepatah yang menyebutkan Angguak Anggak, Geliang Amua.

Simbol simbol/gestur tubuh itu baru bisa dipahami apabila kita sudah lama bergaul dan berada dalam lingkungan mereka.

Kalau tidak … Kita akan diomelin dalam hati
” Kamu kira kami tak tak tahu apa yang ada dibalik batok kepala mu itu. Kamu tak beda dengan yang lainnya, semangat menggebu-gebu, air liur berbuih buih menyampaikan visi dan misi. Tapi nanti juga tak ada istimewanya. Beginilah yang akan kita terima kalau kita belum arif memaknai apa itu angguak anggak geliang amuah,” kata Utiah Kapeh mengakhiri ota lamak mereka…..

Catatan Redaksi; foto diatas tidak ada hubungan dengan artikel ini.

Tam Arang dan Utiah Kapeh

Antara Hendrajoni dan Nasrul Abit; Ciek Naik, Ciek Turun

Batang Kapeh, Pilarbangsanews.com, — Dalam sepekan kemaren ada dua peristiwa penting yang menjadi catatan sejarah bagi masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan yang gemar mengikuti dinamika perpolitikan di Sumatera Barat. Pertama yaitu terkait dengan dicopotnya Nasrul Abit jadi Ketua DPW Partai Gerindra dan digantikan oleh Andre Roseade dan ke dua diangkatnya Bupati Hendrajoni jadi Ketua DPW Partai Nasdem.

Ciek naik, ciek turun tu yo Tam?” kata Ujang Saga mengomentari peristiwa politik di Sumbar yang bikin masyarakat Pesisir Selatan, galak-galak dan manangih.

“Masyarakat Pesisir Selatan manangih, karena Pak NA diturunkan disaat dia kini sedang baniek dan batekad keras maju jadi Calon Gubernur Sumatera Barat. Tapi dirangguaik dek kawan,” ujar Pakie Teliang.

“Saat pilkada lah dakek, politik rangguik-marangguik nampaknya harus dilakukan untuk menjegal kawan maupun lawan politik, ” tambah Pakie Teliang.

“Dirangguik ba’a pulo mukasuik Pakie tu, walupun tak jadi Ketua DPW Gerindra, kan pak NA itu masih punyo peluang untuk maju, ” sanggah Tam Arang.

“Heyai… Itulah permainan politik, samonyo nyamuak makannyo. Lah padiah sajo mangko tahu,” kato Pakie Teliang.

“Jadi ang meramalkan pak NA terhalang jadi calon Gubernur?, ” tanya Tam Arang.

“Bisa jadi begitu. Ibarat salamoko pak NA punyo sangek, dan kalau diidentikkan pak NA sadang mamacik ladiang. Kini nyo tak pacik di mato, tidak mamacik hulunya. Hulunya lah diambiak dek uda Andre. Tantu kini kok mamantak bana lah cotok (paruah) pak NA nan jaleh sangeknyo lah hilang. Bisa bisa Partai Gerindra mencari calon lain nan ka dimajukan jadi calon Gubernur Sumbar, ” Ujar Pakie Teliang mencoba memprediksi lebih jauh.

“Takana dek Waden, apo salah pak NA itu mangko beliau tibo tibo diganti sajo?” tanya Tam Arang.

“Tu lah nan ndak tahu awak, padohal salamo liau jadi ketua DPW, Partai Gerindra banyak mendapekkan kursi di DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kota/kabupaten, ” kata Ujang Saga geram.

“Indak manompang biduak ka hilie pak NA tu, Jang, ” kata Tam Arang.

“Makasuik Saga?”

“Gerindra tu nyo manang di Sumbar dek karano figur pak Prabowo, bukan karano pak NA jadi ketua DPW,” sanggah Tam Arang.

“Tapi nan jaleh kan waktu Pak NA jadi ketua DPW partai Gerindra ko banyak wakil wakilnyo duduk di legislatif. Iko mestinya pak NA mendapekkan apresiasi. Tapi kenyataannyo, habis manis sepah dibuang terhadap diri pak NA,” kata Ujang Saga.

“Kira kira apa salah beliau yang bisa dijadikan alasan bagi DPP Partai Gerindra, ” tanya Ujang Saga sepertinya tak puas pak NA-nya dicopot tagak tagak jadi ketua DPW Gerindra di Sumber.

Supaya handak jaleh, kito minta ka pak YY batanyo lansung ke pak NA, kiro kiro apo salah beliau mangko beliau dibarantaian tagak tagak dek DPP Gerindra.

Lah ditanyo di pak YY pak NA, terkait pencopotan itu. Apo jawab pak NA ka YY?

“Maaf Pak ambo tak berkomentar, ” Jawab pak NA singkat lewat pesan whatsapp nya.

Manuruik Pak YY, sebenarnya pak NA itu tidak diberhentikan tapi digeser letaknya. Kalau selama ini jadi ketua sekarang beliau digeser jadi Ketua Dewan Penasehat DPD Gerindra Sumbar. “Kan masih ketua dan ketua dewan Penasihat lagi, ” kata Mas Tartok.

Soal keinginan pak NA mencalonkan dirinya jadi Gubernur Sumbar, kita gak usah ragu. Ketua DPD Gerindra Sumbar yang baru Uda Andre katanya diberikan penugasan oleh DPP untuk mengawal dan mendukung Pak Nasrul Abit sebagai cagub di Pilgub 2020. Begitu kata uda Andre seperti yang ditulis bebrapa media online pekan lalu.

Pak Nasrul Abit seperti yang diberita beberapa media, menyatakan tidak tahu tentang apa alasan DPP mengganti posisinya. Namun dalam kepengurusan partai Gerindra, pergantian adalah hal biasa terjadi karena Gerindra merupakan partai komando dari pusat.

Partai Gerindra tidak memiliki periodesasi kepengurusan dan tidak mengenal Munas. “Saya rasa nanti saya dipanggil oleh DPP, di sana nanti dijelaskan alasannya, bahwa partai punya kebijakan baru, saya rasa begitu,” tuturnya pak NA seprti ditulis oleh Covesia.com

Ketika ditanyakan wartawan apakah berpengaruh terhadap pencalonan dirinya dalam pemilihan gubernur Sumbar 2020, Nasrul mengaku juga tidak mengetahui pasti. Dia berharap tidak berpengaruh terhadap pencalonan dirinya.

Dia mengatakan saat ini memang DPP Gerindra belum memutuskan calon gubernur Sumbar dalam Pilgub 2020. Proses pemilihan untuk Pilgub saat ini masih berjalan. Mengenai kapan akan diputuskan DPP ia juga belum mengetahui.

“Harapannya tidak berpengaruh, cuma ini kan keputusan DPP, jadi yang pergantian ketua ini berdiri sendiri pencalonan juga berdiri sendiri, harapan kita tetap juga lah, saya sendiri kan juga kader Gerindra,” katanya.

Hari ini diberitakan bahwa Nasrul Abit mengaku telah mempersiapkan diri untuk mengikuti proses pencalonan. Malahan telah mengikuiti sejumlah survei.

Dari sejumlah survei nama pak NA belum dapat dikatakan lebih unggul dari calon lain, namun tidak pula bisa disebut berada pada posisi yang mnguntungkan. Yang jelas jika partai Gerindra nanti mencalonkan diri NA jadi Gubernur peluang untuk menang masih terbuka lebar.

“Nasib pak NA dalam mengadapi Pilkada dapat kita sebut sebagai masih abu abu. Belum bisa diyakini partai Gerindra akan mencalonkan dirinya. Tapi kalau memang itu terjadi, ya sampai disinilah karir politik pak NA. Bagi masyarakat Pesisir Selatan masih ada harapan satu lagi tokoh yang muncul di level Sumbar, yakni Hendrajoni yang benderanya kini sedang berkibar. Dia diangkat sebagai ketua DPW partai Nasdem,” kata Tam Arang.

Dengan diangkatnya Hedarajoni jadi ketua DPW Partai Nasdem, kemungkinan dia jadi calon gubernur/wakil gubernur dari partai Nasdem tentu besar peluangnya.

Tapi apakah Hendrajoni berminat untuk menguji nyali ikut dalam kontestasi alek gadang di Ranah Minang?

Warga lapau Mak Gambuang tak punya keberanian memprediksi, takut nanti tasiloa…..

Baca juga ;

Pak Rasyidin Gaek Yang Tangguh Diantara Lelaki Jemaah Umrah Kami (Bag; 7)

. Tam Arang dan Utiah Kapeh

PAN Pessel Tutup Pendaftaran Calon Bupati/Wakil Bupati. Siapa Saja Calonnya???

Batang Kapeh, Pilarbangsanews.com, —
“Utiah…, Utiah lah dapek kaba?” kata Tam Arang pada Utiah Kapeh membuka ota lamak mereka pagi ini di Lapau Mak Gambuang.

“Kaba apo tu Tam?” tanya Utiah Kapeh.

“Kaba satantang partai DPD PAN Pesisir Selatan nan lah membuka pendaftaran balon (bakal calon) bupati dan wakil bupati nan ka lago di pilkada bulan September tahun dimuka,” kata Tam Arang.

“Alun lei. den alun dapek kaba lei,” jawab Utiah Kapeh.

“Wa’ang lah dapek kaba Jang, ” tanya Tam Arang pada Ujang Saga.

“Alun,” jawab Ujang Saga. Kemudian Ujang bertanya pada
Pakie Teliang. “Pakie ba’a?

” Kalau wakden nan Ujang tanyo, tak mungkin pulo antene den tinggi dari kalian. Kalian sajo bibalun dapek kaba, tak mungkin den nan kadulu pulo. Sagalo nan tajadi dari kalianlah aden mandapek info,” jawab Pakie Teliang.

“Angku Labai ba’a? lah dapek kaba? ” tanya Ujang Saga mencoba mengambil alih pertnyaan yang tadinya muncul dari Tam Arang.

“Kalau den alah, ” kata Lebai Kitak.

“Dari ma angku Labai dapek kaba?”

“Dari berita Online lah. Ang ka tahu juo nyo sajak gadget lah banyak kini, urang ma caliak berita di gadget sajo lai. Surek kaba tak nyo bali sajo di urang kini. Kok ado bana nan mambali tak banyak doh,” kata Lebai Kitak.

“Angku lah punyo gadget kini? ” tanya Pakie Teliang.

“Lai ado dikirim dek Kamanakan den nan karajo di Arab Saudi. Katonyo Uwan Labai paralu ado gadget tu sabab di internet tu lengkap, ado ceramah ugama disitu, ado pertandingan bacakak, ado caro memasak kuliner untuk kaum ibu ibu, ado jua bali pokoknya lengkap disitu sadonyo, ” kata Lebai Kitak.

“Ngku Labai, kini nan memasak kato angku karajo padusi sajo?”

“Indak. Laki laki banyak juo nan pandai memasak. Malahan masakan laki laki labia lamak dibanding masakan padusi. Di restoran cepat saji banyak nan jadi koki maupun Chef, personilnyo adalah laki laki ” kata Lebai Litak menjelaskan.

“Apo beda koki samo chef itu ngku, ” tanya Ujang Saga.

“Uuuu-ujang ka-ka-kama painyo ota awak ko-ko Ngku, awak ma-maotakan daftar-daftar ba-ba-balon bu-bu-bupati, taaa-tapi ma-maranca ka ko-ko kita sa-sa-samo chef. Kambali awak ba-baliak ka ba-ba-balon bupati tutu,” kata Udin Gagok mengajak teman – temannya membahas masalah calon bupati Pesisir Selatan.

“Setuju saya itu mah Pakie, coba kita minta Angku Labai menceritakan calon bupati yang mendaftarkan dirinya ke DPD PAN Pesisir Selatan itu,” kata Mas Tartok.

“Okey lah ambo bacokan ya berita online itu, ” kata Lebai Litak.

“Berita dari media apa yang angku Labai Baca? ”

“Dari berita Tagar.com,” kata Labai Litak.

“Oh bukan Pilarbangsanews.com ya? ” tanya Tam Arang.

“Bukan…, tapi berita dari media online Tagar.com, ” kata Labai Litak menyebutkan sekali lagi.

“Kita maklumi saja lah Mas, pilarbangsanews.com kan medianya pak YY kita, pak YY kalah cepat dibanding Tagar, karena Tagar itu usia wartawannya muda muda. Kalau pacu lari dengan wartawan pilarbangsanews.com yang umurnya kebanyakan diatas 40 tahun pasti lah mereka akan kalah cepat,” Utiah Kapeh menjelaskan.

“Mmmmm, lah kemana pula melenceng nya itu, sampai ke umur wartawan pula yang disinggung, ” kata Pakie Teliang.

“Baiklah… Ambo bacokan lei yo, ” Labai Litak mencoba menengahi.

“Silahkan ngku..!, ” kata Tam Arang.

Menurut berita Tagar itu,
10 kandidat calon bupati dan wakil bupati Pilkada 2020 telah mendaftar ke DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Pesisir Selatan

Pembukaan pendaftaran dimulai mulai dari 1 November 2019 sampai 20 November 2019. Hanya selama 20 hari.

Nama-nama yang mendaftar dari kalangan politisi, akademisi, pelaku usaha, mantan birokrat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan petinggi partai politik. Putra Pessel ssmuanya

Dari 10 nama, hanya 1 kandidat yang tidak mengisi formulir calon wakil bupati dan 1 nama lainnya tidak mengisi kandidat calon bupati. “Kami hargai itu.

Menurut panitia pendaftaran, partai tidak membedakan antara kader dan bukan kader. Kualifikasi bagi calon yang akan diusung tidak berbeda. Persyaratan utama bagi kandidat adalah loyalitas dan elektabilitas.

Ketika ditanyai soal pilihan koalisi, Wakil ketua Tim menyatakan memikirkan soal itu. Yang pasti, PAN akan tetap menjalin komunikasi dengan semua partai politik yang ada di daerah itu.Sebab, untuk mengusung kandidat, PAN harus berkoalisi. “Tapi soal koalisi itu nantilah. Kami belum membahasnya. Masih jauh,” tuturnya.

“Meski begitu, partai berlambang matahari biru itu menyatakan kesiapan dan optimismenya menghadapi Pilkada. “Sebagai pemenang Pileg, tentu ini point tersendiri bagi kami,” ujarnya yakin.

“Demikian isi berita tersebut,” kata Labai Litak.

“Orang orang 10 itu siapa saja, ngku Labai, ” tanya Mas Tartok.

“Gak ada ditulis dalam berita itu, ” jawab Labai Litak.

“Nama Yul Afnedi ketua DPD PAN Pessel, apakah masuk jadi calon? ” tanya Tam Arang.

“Gak ada tuh di berita, ” Jawab Labai Litak.

“Mungkin namanya masuk kalau kasusnya gak lanjut,” kata Utiah Kapeh.

“Kalau kasusnya lanjut ndak mungkin sampai sekarang didiemin saja oleh penyidik di Polres Pesisir Selatan. Pasti belum cukup bukti, ” Tam Arang menimpali.

“Lantas kira kira kenapa pihak Panitia Pendaftaran tak menyebutkan nama nama yang mendaftar, Tiah, ” tanya Mas Tartok.

“Kita enggak tahu juga alasannya. Biasanya kalau komperensi Pers itu disebutkan nama nama, ini kenapa tidak, ” kata Utiah Kapeh. Dan Utiah Kapeh berjanji akan menanyakan itu ke bapak yang menulis artikel ini mana tahu dia bisa bertanya apa alasannya.

“Tapi deyen yakin PAN Pesisir Selatan akan mengusung calon yang memiliki elektabilitas yang bisa memenangkan Pilkada nantinya, ” kata Tam Arang menutup ota lamak mereka pagi ini. (****)

. Tam Arang dan Utiah Kapeh

MENCALONKAN DIRI JADI BUPATI PESSEL, H DIAN UTAMA ;   “TAPI PITIH AMBO SAYUIK DA..!”

Batang Kapeh, Pilarbangsanews.com, —

“Tam…, sekitar 2 pekan nan silam ado adiak pak YY, nyo tingga di Pelambang. Nyo SMS pak YY awak. Kalian ingin tahu ndak, apo isi SMS itu? ” kata Utiah Kapeh membuka ota lamak mereka pagi ini di Lepau Mak Gambuang.

“Ambo Iyo ingin tahu, ” kata Labai Litak, agak kepo.

“Deyen Iyo juo. Ingin tahu, ” kata Pakie Tileang.

“Den raso Ujang Saga, Udin Gagok, Mas Tartok tamasuak Mak Gambuang ingin tahu tu mah, cubo ang caritokan isi SMS adiak pak YY tu, Tiah,” kata Tam Arang tak sabaran.

Tadi pagi sebelum Utiah Kapeh cs membuka ota lamak mereka. Labai Litak, membacakan do’a atas meninggalnya uda sepupu dari pak YY yang bernama Ishak Yunus Dt Rajo Pahlawan.

H Ishak Yunus Dt Rajo Pahlawan ini dulunya pernah lama menjabat kepala SMA Negeri Painan di Salido tahun 1969 s.d tahun 1979. Terakhir pensiunan tahun 1985 sebagai pengawas SMTA di Kanwil Departemen Pendidikan Sumbar. Beliau juga mantan ketua KAN IV Koto Hilie Kecamatan Batang Kapas. Beliau meninggal pada usia 85 tahun di RSUD Painan pada Senin dini hari ( 18/11/2019) sekitar pukul 3;00 WIB.

Beliau meninggalkan 2 orang istri dan 13 orang anak serta puluhan cucu dan beberapa orang cicit. Gelar Dt Rajo Pahlawan yang disandang almarhum sejak tahun 1977 disalinbajukan kepada adik sepupunya bernama Syaf Chaniago. Dalam prosesi adat di rumah nan gudang di Kampuang Pinang, Nagari IV Koto Hilie Kecamatan Batang Kapeh. Beliau dikebumikan pada Senin sore 18/11/2019.

Dari Lepau Mak Gambuang, Utiah Kapeh cs ikut mengucapkan belangsungkawa atas meninggalnya uda dari pak YY itu, semoga arwah almarhum ditempatkan disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi musibah ini. Itu salah satu isi doa yang dipimpin oleh Labai Litak tadi sebelum Utiah Kapeh membuka ota lamak mereka.

oooOooo

Dalam SMS itu adiak pak YY nan banamo H Dian Utama ST, SE, minta agar namanya dibicarakan dalam ota lamak di Lepau Mak Gambuang, sebagai bakal calon bupati Pessel dari Nagari IV Koto Hilie.

“Uda cubo lah uda katokan ka Utiah Kapeh tu, agak sakali bicarakan pulo namo ambo, begitu SMS H Dian ke udanya nan sempat ambo baco, ” kata Utiah Kapeh.

“Ya saya juga dengar kabar, bahwa pak YY agak keberatan menyuruh kita membicarakan adiknya Itu, ” kata Mas Tartok lalu kemudian Mas Tartok bertanya pada Utiah Kapeh apakah nanti kalau kita bicarakan tentang H Dian itu pak YY engak marah.

“Enggak mas, beliau yang nyuruh saya, semalam, ” Jawab Utiah Kapeh.

“Kalau begitu lanjutkan.” kata Mas Tartok.

Ini bunyi SMS nya;

“Uda…, kalau Ambo ado dana 7 M akan ambo cubo mencalonkan diri jadi bupati. Demi Allah ambo tak gentar menghadapi pak HJ itu. Ambo barani, in sha Allah Ambo manang, da. Tapi pitih ambo SAYUIK,”

“Bara pitih Haji ado?” Jawab pak YY.

“Pokoknyo sayuik,” Kata H Dian.

Dana yang Rp7M itu dirincikan H DIAN kegunaannya sebagai berikut;

1. 2 partai pengusung, perlu dana 2 M

2. 75 ribu suara X 50 Ribu/ per orang, kita butuh Dana sebedar :
Rp. 3.750.000.000,-

3. Operasional selama persiapan kompanya dan kompanye total :
Rp. 1 M

4. Saksi 1.800 tps X 150 ribu : Rp. 270 juta

5. Total Cos utk menghapi pak HJ supaya kita menang sebesar : Rp. 7.020.000.000.

Degan dana sebesar itu In Sha Allah ambo bisa menang, da. Tetapi kalau tak ado dana, jo hawo angok sajo. Mano bisa kito manang da?

“Kalau jo hawo busuak sajo kito menghadapinya, mano bisa kito mamang da. Jangan urang lain, uda sendiri mungkin tak aka memilih ambo tu doh, ” kata Utiah Kapeh membacakan SMS H Dian ke pak YY.

Siapa H Dian Utama?

H Dian Utama kampungnya di Rumah Tenggi, Koto Tuo Nagari IV Koto Hilie, suku Koto. Dia adalah seorang pegawai PLN dan pernah lama menangani pengawasan pemasangan jaringan sutet di Pesisir Selatan.

Pada pilkada tahun 2016 lalu nama H Dian Utama sempat mengapung tapi tak sampai ke tahap calon yang ikut dalam kontestasi. Nama H Dian tercecer karena tak ada yang mengajaknya sabagai pasangan balon.

Kini pada pilkada tahun 2020, H Dian namanya kembali diapungkan. Kali ini yang megapungkannya adalah warga Utiah Kapeh cs di Lepas Mak Gambuang.

Apakah nanti H Dian akan ikut bersaing sebagai calon bupati atau wakil bupati. Hanya waktu yang bisa menentukan. Mari kita tunggu tanggal mainnya.

Jika H Dian mau maju tentunya dia sudah pulang kampung dan mencoba melakukan lobi lobi di kampungnya untuk minta dukungan.

Tapi ingat di IV Koto Hilie itu, suaro pemilih agak galie.

“Apo itu galie?”

“Galie itu sama dengan licin seperti incek cubadak, kalau tanggung-tanggung pegang dia akan nyelonong ke kiri, kekanan, ke belakang, ke depan dan kadang-kadang melambung ke atas, ” kata Utiah Kapeh mengakhiri ota lamak mereka pagi tadi. (****)

Baca juga :

Bupati Hendrajoni Bertabur Penghargaan