.

Sosialisasi BKKBN di Depok, Wenny Haryanto PaparkanStunting kepada Penyuluh KB

Depok, PilarbangsaNews

Anggota Komisi IX DPR RI Dra. Hj. Wenny Haryanto, SH, kembali menggelar sosialisasi penguatan pendataan keluarga kelompok sasaran bangga kencana bersama mitra tahun 2021, Selasa (28/09/2021) di Duren Seribu, Kecamatan Bojong Sari, Kota Depok, Jawa Barat.

Kepada peserta sosialisasi yang rata-rata adalah ibu-ibu penyuluh KB, PKK dan Posyandu, Wenny Haryanto memaparkan tentang stunting.

“Saya ingin memberitahukan, bahwa BKKBN itu pada tanggal 25 Januari 2021, mengadakan rapat terbatas dengan Presiden, dimana BKKBN itu ditunjuk sebagai ketua pelaksana penurunan stunting nasional, diberikan target oleh Presiden yang luar biasa berat, ditahun 2024 stunting itu harus turun menjadi 14%. WHO sendiri menerapkan batas stunting itu 20%, nah kondisi saat ini stunting di Indonesia masih 26,2%. Artinya masih banyak sekali yang harus dikejar supaya tercapai,” kata Wenny Haryanto saat menyampaikan pemaparannya.

Karena beratnya tugas BKKBN itu, Wenny meminta kepada seluruh kader KB di daerah itu untuk ikut membantu BKKBN dalam mensosialisasikan stunting kepada masyarakat sekitar mereka.

“Ibu ibu pasti sudah tahu stunting apa ya, stunting itu adalah kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu yang panjang, biasanya terjadi dalam seribu hari pertama kehidupan, yaitu sejak bayi masih berupa janin dalam kandungan, sampai dilahirkan hingga usia sekitar dua tahun,” lanjut Wenny.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN RI DR. Drs. Lalu Makripuddin, Msi

Wenny menjelaskan secara kasat mata anak yang terkena stunting badan anak stunting lebih pendek dari anak-anak sebayanya. “Ciri-cirinya, pertumbuhan giginya melambat, menurunnya kemampuan focus dan memori belajar, pertumbuhan tubuh melambat, wajahnya lebih muda dari anak-anak sebayanya, puberitasnya terlambat, pada tahun ke delapan sampai sepuluh, anak cendrung pendiam, ia menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya, karena gizinya kurang maka anak rentan terserang penyakit,” beber Wenny.

Selain menggambarkan dampak dari stunting, namun Wenny juga menyampaikan berita baik tentang stunting. “Berita baiknya, stunting dapat dicegah, yang pertama ketika ibu sedang hamil wajib mengkonsumsi tablet penambah darah, yang kedua ketika sedang hamil asupan gizinya harus seimbang yaitu makanan empat sehat lima sempurna, kemudian ketika bayi sudah lahir berikan imunisasi dasar lengkap, pemberian aksi ekslusif enam bulan, serta perilaku hidup sehat, monitor terus pertumbuhan bayi baik berat badan, tinggi ataupun lingkar kepalanya. Kalau hal-hal ini saja bisa disampaikan kepada masyarakat secara baik, Insya Allah stunting bisa dihindari,” lengkapnya.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN RI DR. Drs. Lalu Makripuddin, Msi mengatakan, stunting harus dicegah, karena masa depan anak akan menjadi suram.

“Kenapa stunting harus kita cegah, karena stunting itu bukan hanya ototnya yang pendek, bukan hanya tubuhnya yang pendek tapi otaknya juga pendek, IQ nya jadi rendah, jadi bodoh, itulah yang namanya stunting. Tentu kita tidak ada yang berharap memiliki anak yang tidak cerdas, anak yang bodoh yang sering sakit,” ungkap Lalu Makripuddin.

Angelia Sri Melani Winyarti, SE. MM.

Lalu Makripuddin menjelaskan, jika anak-anak stunting akan meneruskan kemiskinan, karena anak stunting IQ-nya rendah nanti bekerjanya juga pendapatannya rendah.
“Dia hanya bisa menjadi kenek atau tukang pendapatannya hanya 70 ribu sehari, beda dengan anak yang tidak stunting, dengan hanya tekan tekan HP bisa hasilkan jutaan rupiah perhari,” lanjutnya.

Sosialisasi ini juga dihadiri kordinator bidang Latbang BKKBN Provinsi Jawa Barat Angelia Sri Melani Winyarti, SE. MM. “Apa itu Bangga Kencana, pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana. Kenapa harus pembangunan keluarga, kerena inilah titik sentral kemajuan sebuah negara. Salah satu persyaratan adanya negara karena adanya penduduk. Siapakah penduduk itu, adalah kumpulan keluarga keluarga, jadi Bangga Kencana diawali pembangunan keluarga kependudukan dan keluarga berancana,” kata Angelia Sri Melani Winyarti.

Angelia meneruskan, di BKKB ada beberapa program lainnya diantaranya BKB atau Bina Keluarga Balita yaitu sebuah wadah atau tempat dimana anggotanya keluarga yang memiliki balita. “Kegiatannya adalah bagaimana nanti para orang tua ataupun siapa saja dalam keluarga yang merawat balitanya bisa melakukan pola asuh yang baik terhadap balita,” lanjut Angelia.

Ir. Pintauli R Siregar, MM.

Setelah program BKB kemudian dilanjutkan dengan program Bina Keluarga Remaja. “Ada tiga persoalan utama remaja kita, pergaulan bebas, narkoba, serta pernikahan dini,” tambahnya.

Selain kedua program itu, ada juga program untuk lansia bagi usia 60 tahun ke atas. Program BKKBN untuk lansia disebut Bina Keluarga Lansia.

Selain kedua narasumber tersebut, juga hadir Kordinator Bidang KBKR BKKBN Provinsi Jawa Barat Ir. Pintauli R Siregar, MM. Sosialisasi ini diikuti sekitar 150 lebih peserta dengan menerapkan protokol kesehatan yang lengkap. Peserta juga bisa membawa pulang hadiah doorprise yang disiapkan panitia serta bingkisan bagi semua peserta. (yah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *