Pilarbangsanews.com. India: Banjir dan longsor yang disebabkan oleh hujan lebat di daerah perbukitan Assam, Arunachal Pradesh, Nagaland dan Manipur, India selama dua minggu terakhir itu mengakibatkan setidaknya 83 orang tewas dan dua juta orang mengungsi. 
Banjir juga telah menewaskan tiga ekor badak bercula satu di sebuah taman nasional.
‘Assam adalah daerah yang paling parah dilanda banjir dan 53 nyawa hilang saat akibat banjir dan longsor dua juta orang menggungsi,’ kata Menteri Kepala Assam Sarbananda Sonowal dilansir Reuters, Sabtu 15 Juli 2017.
Perdana Menteri Narendra Modi telah mengirim sebuah tim pejabat pemerintah federal untuk melakukan pendataan jumlah korban dan kerugian yang terjadi akibat banjir dan longsor tersebut. 
Tidak hanya rumah warga yang terkena banjir dan longsor, Banjir juga telah merusak margasatwa Kaziranga di Assam. Tiga ekor badak bercula satu dinyatakan tewas, akibat tenggelam pada Jumat 14 Juli 2017. 
Taman Nasional Kaziranga, sebuah situs warisan dunia UNESCO, merupakan rumah bagi sekitar 2.500 badak dari sekitar 3.000 populasi dunia. Hampir 60 hewan lainnya, kebanyakan rusa dan babi hutan, tewas dalambanjir, katanya. 

Banjir di kawasan utara India itu memaksa 1,5 juta orang mengungsi.  Air di sungai Brahmaputra, yang mengalir dari China menuju India dan Bangladesh, melewati batas ketinggian bibir sungai setelah hujan lebat.
Perdana Menteri Narendra Modi menyatakan duka cita terhadap keluarga korban, sementara ribuan orang mencari perlindungan di lebih dari 300 tempat penampungan darurat. Di sisi lain, pejabat setempat menyatakan
‘Kewaspadaan tertinggi terhadap bahaya kesehatan untuk menghentikan penyebaran penyakit. Upaya besar juga dilakukan untuk menyelamatkan badak bercula satu dan hewan liar lain, yang berada dalam bahaya, saat banjir menggenangi Taman Nasional Kaziranga. Lebih dari 90 persen wilayah Taman Nasional Kaziranga kini terendam air,’ kata Menteri Kehutanan negara bagian Assam, Rani Brahma
Taman seluas 430 km persegi itu adalah habitat bagi 2.500 badak bercula satu. Hewan kini mengungsi di daratan tinggi, termasuk pegunungan di luar wilayah taman. Namun, saat hewan itu pindah ke daerah lebih tinggi untuk menghindari banjir, mereka rentan menjadi korban para pemburu binatang langka. Mereka juga semakin berpotensi menjadi korban tabrakan oleh kendaraan jika hewan itu berlindung di jalanan.
‘Barikade khusus telah dipasang di jalan-jalan utama dan para penjaga hutan sudah meminta pengendara untuk memacu kendaraan mereka di bawah kecepatan

40 km per jam,’ kata penjaga kawasan taman nasional.
Ketinggian air di sungai Brahmaputra diperkirakan terus naik hingga akhir pekan ini sebelum kembali ke tingkat normal, kata Komisi Pusat Perairan.

By Pilar