PILARBANGSANEWS. COM.LAMPUNG,- Lampung Timur (23/10), Mobil tiba-tiba direm mendadak, hampir  semua penumpang terhempas dari tempat duduknya. Belum lagi sempat bertanya, “truk didepan diberhentikan”  kata  sopir melontarkan pemberitahuan seakan sebagai ganti kata maaf.

Sambil memperbaiki posisi duduk, kami melihat kedepan mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan truk pemuat kayu yang diberhentikan. Rupanya ada pemuda tanggung sedang berbicara dengan sopir truk, tidak jelas apa yang diperbincangkan.

Empat atau lima orang kawannya duduk di gubuk semacam pos ronda tampak mengawasi dari jauh. 

Truk tak juga bergerak hampir satu menit, justru dari jauh, tampak bahasa tubuh terjadi ketegangan antara sopir truk dan pemuda, suara meninggi tapi tidak jelas, semacam pertengkaran.

Lalu tiba-tiba, “dorrrr…” suara letusan senjata api,  keras mendesing mengudara.

Secepat kilat, pemuda tanggung itu terlihat membalikkan badan, lalu lari terbirit-birit melompati pagar hidup pekarangan rumah penduduk, meninggalkan sopir truk,  sementara kawan-kawannya  yang sedang mengawasi, porak poranda lari tunggang-langgang laksana antelop menyadari bahaya.
Sekejap kami takjub, seperti sedang menonton adegan film, tapi nyata.

Kemudian dengan hati-hati, sambil melongokkan kepala dari kaca mobil, kami cari tahu, ternyata seorang pria, aparat barangkali berpakaian preman sedang menumpang atau sengaja mengawal truk yang menarik pelatuk senjata, demi melindungi dari pemerasan. 
Kami paham jalan ini memang cukup terkenal rawan.
Tak lama kemudian, di kejauhan sudah tampak jalan masuk ke Instalasi Karantina Hewan (IKH) perusahaan feefloter terbesar di Lampung Timur. Mobil berbelok, lalu tampak pagar depan tegak berdiri sebagai pintu gerbang dengan bak dipping di depannya, menyudahi ingatan kejadian yang terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Inilah perjalanan kami dari Bandar Lampung menuju Instalasi Karantina Hewan di Jabung Lampung Timur. Kami bersyukur lancar dalam perjalanan, siap melaksanakan tugas melakukan tindakan karantina hewan terhadap 502 ekor sapi indukan. 1.649 ekor sapi bakalan asal Australia yang masuk melalui Pelabuhan Panjang tanggal 18 Oktober 2017 serta monitoring sapi indukan sebanyak 1.686 ekor.

Ancaman dalam berbagai sendi kehidupan selalu ada, kapan saja dan dimana saja, oleh sebab itu diperlukan kewaspadaan tinggi.

Demikian pula negeri tercinta ini, ditengah-tengah arus logistik yang tak kenal waktu dan batas, selalu menyimpan peluang dan ancamannya tersendiri, peluang ekonomi dan ancaman intersepsi Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dari lalu lintas media pembawa, tetapi petugas karantina ada untuk  mengamankan keduanya.

Sebagai garda terdepan, mencegah masuk, tersebarnya, serta keluarnya HPHK dan OPTK sekaligus sebagai fasilitator serta akselerator ekspor produk pertanian.

#KarantinaLampung

By Pilar