PILARBANGSANEWS. COM. MAKASSAR — Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) mendesak Wakapolrestabes Makassar, AKBP Hotman Sirait untuk segera meminta maaf secara terbuka. Hal ini menyusul adanya kader GAM dituding telah positif menggunakan narkoba.

Sebelumnya, kader GAM, Emen Lahuda diamankan di Polrestabes Makassar atas tudingan positif menggunakan narkoba. Dua hari ditahan di Polrestabes makassar, Emen sapaan akrabnya dibebaskan tanpa syarat lantaran tidak ada barang bukti. Itu pun, dia ditangkap saat melakukan aksi unjuk rasa peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP), pada Sabtu (28/10/2017) lalu.

“Saudara Emen diamankan di pos polisi Fly Over saat unjuk rasa. Dimintai sampel urine lalu dites. Belum ada hasil lalu dilepas untuk kembali melakukan aksi unjuk rasa. Tidak lama tiba – tiba datang polisi mengamankan dengan alasan positif narkoba,” kata Panglima GAM, Denny Abioga kepada wartawan, pada Selasa (31/10).

Dia menyayangkan tes urine tanpa sepengetahuan dan pengawasan yang bersangkutan. Gosel, sapaan akrab Denny mengaku curiga ada sabotase hasil tes urine tersebut. Bahkan sebelum hasil tes urine dinyatakan falid, Hotman mengeluarkan pernyataan terbuka bahwa Emen dinyatakan positif pecandu narkoba.

“Saya meminta kepada bapak Hotman Sirait secara pribadi untuk meminta maaf secara terbuka di hadapan publik dan mengembalikan nama baik lembaga Gerakan Aktivis Mahasiswa. Ini sudah mencederai nama baik lembaga kami dan saudara Emen secara pribadi,” tegasnya.

Hal senada dikatakan eks Panglima GAM, Adhi Puto Palaza. Ia mendesak Kapolrestabes Makassar dan Kapolda Sulsel untuk mencopot Hotman dari jabatannya. Menurutnya, pernyataan Hotman perihal kasus yang dialami rekannya sangat fatal dan tidak bisa lagi ditolerir.

“Kami tidak pernah menyalahkan Polrestabes secara institusi, yang kami sayangkan adalah pernyataan pak Hotman. Sehingga, kami meminta kepada Kapolda dan Kapolrestabes untuk memberikan sanksi tegas dengan mencopot Wakapolrestabes makassar. Sebut saja, hal seperti inilah yang dapat mencoreng citra kepolisian di mata masyarakat dan merusak cita cita kapolri dalam mereformasi polri. Etika seorang wakil kepala kepolisian yang tidak memberika etika baik terhadap jajarannya. Dia harus di copot” tegas Puto.

Ia juga menegaskan, pihaknya tidak menerima tudingan Hotman. “Tanpa menguragi rasa hormat, saya meminta ke pak Kapolrestabes dan pak Kapolda mempertimbangkan saran kami ini,” tutupnya.

Sementara itu, salah satu kader GAM, Sihabuddin mengatakan, sesuai foto hasil tes urine rekannya itu yang beredar di media sosial adalah negatif. Dia menjelaskan jika terdapat satu garis maka dinyatakan positif, namun jika ada dua garis maka hasilnya negatif. 

“Yang beredar itu kan ada dua garis. Ini harus dibedakan antara tes urine dan tes kehamilan,” ucap alumni Analis Kesehatan ini.

Dijelaskan pula, jika tes urine, semestinya harus transparan petugas yang melakukan tes terhadap yang bersangkutan. “Ini harus transparan, jelas aturannya, karena memang harus dipertanggungjawabkan,” tuturnya.

Sementara itu, Emen yang dimintai keterangannya menegaskan, sama sekali dirinya tidak pernah menggunakan narkoba zat adiktif. Yang pasti, kata dia, sebelum unjuk rasa dua hari lalu, dirinya beserta rekannya memang merasa banyak mendapat intevensi. Belum lagi sekertariat kami di sambangi puluhan intelijen saat kami mempersiapkan petaka aksi pada malam hari sebelum hari sumpah pemuda esoknya.

Emen melanjutkan, Jangankan dikatakan pengguna, saya sama sekali tidak pernah mencoba yang namanya narkoba. Sampai ditahan dan saya lepas, saya selalu katakan sekalipun tidak. Soal berita yang beredar, itu murni tudingan dari kepolisian,” ucapnya.

Lebih jauh dia tidak ingin terlalu jauh menanggapi adanya kecurigaan dirinya dikriminalisasi. Saat ditanya lebih jauh, Emen hanya memberikan jawaban diplomatis.

“Yang pasti, jika ada spekulasi seperti itu (kriminalisasi) mungkin wajar – wajar saja. Apalagi itu dari senior di pergerakan, yang tahu dan paham betul bagianana kita dilapangan,” tandasnya.(**)

By Pilar