PILARBANGSANEWS. COM. JAKARTA,-Pro dan kontra mengenai peringatan Hari Pers Nasional (HPN) terus bergulir. Tidak hanya mengenai tanggal peringatannya namun juga mengenai esensial perhelatan peringatan HPN itu sendiri.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Abdul Manan menegaskan AJI secara khusus tidak memperingati Hari Pers Nasional mengingat HPN yang ditetapkan saat ini merupkan hari kelahiran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sehingga tak mewakili seluruh insan pers di Indonesia.

Tidak hanya itu, menurut Abdul Manan, peringatan HPN sendiri dari tahun ke tahun tidak menjawab masalah-masalah Pers saat ini.

“Kita tidak memperingati,” ungkapnya saat dikonfirmasi Covesia.com, Rabu (7/2/2018).

Menurutnya permasalahan Pers saat ini terbagi dalam tiga kelompok besar yakni kemerdekaan Pers, profesionalisme Pers dan kesejahteraan Pers. Dimana ketiga masalah ini lanjutnya tidak pernah menjadi kajian dan pembahasan HPN.

Seharusnya, lanjut Abdul Manan, HPN mampu memberikan perhatian dan menjawab ketiga masalah utama insan jurnalis di Indonesia.

“Saat ini orang masih tidak memahami kebebasan Pers. Pers tidak sepenuhnya merdeka karena masih banyak Undang-Undang dan regulasi yang memenjarakan wartawan seperti UU ujaran kebencian dan UU ITE,” jelasnya.

“Kemudian masalah kekerasan wartawan. Kita (AJI) mencatat selama 2017 ada 60 kasus kekerasan terhadap wartawan. Dan isu semua ini tak menjadi pembahasan di HPN,” tambahnya.

Faktanya lanjut Abdul peringatan HPN saat ini hanya bersifat serimonial upacara yang dihadiri oleh pejabat-pejabat negara dengan menggunakan APBD dan APBN

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan ketua PWI Pusat Margiono dan Sekretaris Jenderal PWI Hendri Ch Bangun belum dapat dimintai keterangannya. Baik Margiono maupun Hendri belum menjawab panggilan telepon maupun pesan singkat dari covesia.com.

Sebelumnya diketahui AJI dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mengusulkan pada Dewan Pers perubahan Hari Pers Nasional.(utr/covesia.com)

By Pilar