Sumatera Utara

Bupati Deli Serdang Ziarah Ke Makam Pahlawan Dalam Rangka Harkitnas Ke 111

Lubuk Pakam, pilarbangsanews.com – Pemerintah Kabupaten Deli Serdang Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 111, di Lapangan Alun-alun Pemkab, Senin (20/5), yang berthemakan “Bangkit Untuk Bersatu”. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 111 ini juga dirangkaikan dengan berziarah serta menabur bunga di makam pahlawan yang berada di Kota Lubuk Pakam.

Bertindak sebagai Irup Wakil Bupati Deli Serdang HMA Yusuf Siregar, Danup Kapt Inf Romer Sinaga dari Kodam 121/MK, dihadiri Wakil Ketua TP PKK Ny Hj Sri Pepeni Yusuf Siregar dan Pimpinan Organisasi Wanita lainnya,Wakapolres Deli Serdang Kompol Arnis Syafni yanti SE, Dandim 0204/DS Letkol Kav. Syamsul Arifin, Danyon 121/MK Letkol Inf. Imir Faisal, Kepala Pengadilan Agama Deli Serdang Drs.H. Amir Hamzah, S.H ,Kakan Kemenag Deli Serdang H Tholibun Pohan,Para Staf ahli, Asisten, Kepala OPD, Para Camat,bersama unsur FKPD lainnya, Staf ahli Bupati, para Asisten, Pimpinan OPD, para Camat , LVRI, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, KNPI dan pimpinan OKP lainnya, diikuti peserta upacara dari barisan TNI/Polri, Mahasiswa, Siswa SMA/SMK, SMP dan Pramuka.

Wakil Bupati HMA Yusuf Siregar ketika itu menyampaikan sambutan tertulis Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara.

“Dalam naskah Sumpah Palapa yang ditemukan pada Kitab Pararaton tertulis: Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”. Memang ada banyak versi tafsiran atas teks tersebut, terutama tentang apa yang dimaksud dengan “amukti palapa”. Namun meski sampai saat ini masih belum diperoleh pengetahuan yang pasti, umumnya para ahli sepakat bahwa amukti palapa berarti sesuatu yang berkaitan dengan laku prihatin sang Mahapatih Gajah Mada. Artinya, ia tak akan menghentikan mati raga atau puasanya sebelum mempersatukan Nusantara. Sumpah Palapa tersebut merupakan embrio paling kuat bagi janin persatuan Indonesia. Wilayah Nusantara yang disatukan oleh Gajah Mada telah menjadi acuan bagi perjuangan berat para pahlawan nasional kita untuk mengikat wilayah Indonesia seperti yang secara de jure terwujud dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini.”, kata Menteri Kominfo.

“Telah lebih satu abad kita menorehkan catatan penghormatan dan penghargaan atas kemajemukan bangsa yang ditandai dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo. Dalam kondisi kemajemukan bahasa, suku, agama, kebudayaan, ditingkah bentang geografis yang merupakan salah satu yang paling ekstrem di dunia, kita membuktikan bahwa mampu menjaga persatuan sampai detik ini. Oleh sebab itu, tak diragukan lagi bahwa kita pasti akan mampu segera kembali bersatu dari kerenggangan perbedaan pendapat, dari keterbelahan sosial, dengan memikirkan kepentingan yang lebih luas bagi anak cucu bangsa ini, yaitu persatuan Indonesia”.

“Peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini juga dilangsungkan dalam suasana bulan Ramadan. Bagi umat muslim, bulan suci ini menuntun kita untuk mengejar pahala dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah SWT seperti permusuhan dan kebencian, apalagi penyebaran kebohongan dan fitnah. Hingga pada akhirnya, pada ujung bulan Ramadan nanti, kita bisa seperti Mahapatih Gadjah Mada, mengakhiri puasa dengan hati dan lingkungan yang bersih berkat hubungan yang kembali fitri dengan saudara-saudara di sekitar kita. Dengan semua harapan tersebut, kiranya sangat relevan apabila peringatan Hari Kebangkitan Nasional, disematkan tema “Bangkit Untuk Bersatu”. Kita bangkit untuk kembali menjalin persatuan dan kesatuan dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia.”.

“Bangsa ini adalah bangsa yang besar. Yang telah mampu terus menghidupi semangat persatuannya selama berabad-abad. Kuncinya ada dalam dwilingga salin suara berikut ini: gotong-royong”

“Bung Karno juga menggambarkan persatuan bangsa seperti Menurut Bung Karno: “Jika kuperas yang lima ini menjadi satu, maka dapatlah aku satu perkataan yang tulen, yaitu perkataan gotong royong. Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!”

Yel-yel “holopis-kuntul baris” adalah aba-aba nenek moyang kita di tanah Jawa, digunakan sebagai paduan suara untuk memberi semangat ketika mengerjakan tugas berat yang hanya bisa dikerjakan secara bergotong-royong, bersama-sama

Dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus sebelas, seraya mengajak agar kita semua sebagai sesama anak bangsa secara sadar memaknai peringatan kali ini dengan memperbarui semangat gotong-royong dan kolaborasi, sebagai warisan kearifan lokal yang akan membawa kita menuju kejayaan di pentas global.(MartinS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *