Acah, PilarbangsaNews, — Pahlawan Cilik”, begitu  julukan yang sangat pantas diberikan kepada murid Sekolah Dasar kelas III(tiga) ini. Rangga begitu namanya bila disapa. Ia sangat pantas dijuluki pahlawan kecil, kerana keberaniannya menghalang-halangi tersangka pemerkosa ibu Rangga.

Tapi seberapalah kekuatan fisik seorang anak kecil jika harus beradu kekuatan dengan seorang lelaki dewasa.

Agus 2

Ia terkapar bersimbah darah akibat luka sabetan golok (parang) pemerkosa ibu nya. Sebelum Tewas di Tangan Pemerkosa, anak yang pandai mengaji, Kerap Ranking 1 dikelasnya ini, merengek pada Ayahnya agar dibolehkan tinggal dengan Ibunya.

Sajak ayah dan ibunya bercerai, Rangga bersama adiknya tinggal bersama ayah.

Hj-HMDS

Rangga bari 2 minggu ini tinggal di Birem Bayeun bersama ibunya setelah merayakan ultah

Melansir dari Serambinews.com, Fadli mengatakan, Rangga baru dua pekan tinggal bersama ibunya, Dn, di Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur.

Sejak berpisah dengan Dn dua tahun lalu, Rangga bersama sang adik memang tinggal bersama sang ayah, di Medan Selayang.

“Tanggal 19 September 2020 lalu, saya baru saja merayakan ulang tahun almarhum yang genap berusia 10 tahun,” ujar pria berdarah Aceh Karo tersebut dengan air mata meleleh di pipinya.

Beberapa hari setelah merayakan ultahnya yang ke-10, ibu Rangga, Dn datang ke rumahnya di Medan Selayang dengan maksud membawa Rangga ke Aceh.

Saat itu, Fadli mengaku berat melepas kepergian putra pertamanya itu .

“Tapi karena almarhum terus sangat rindu pada anaknya,  saya memahami dan akhirnya diizinkan, ” ungkap Fadli.

Menurut Fadli ia sempat tak percaya mendengar kabar anaknya itu telah meninggal dunia.

“Saya hampir tak percaya mendengar kabar Rangga meninggal.””

“Apalagi dia meninggal karena sabetan parang pelaku karena berusaha membantu ibunya di rumah itu,” jelasnya.

Sempat diminta lari oleh ibunya

Fadli menjelaskan, saat kejadian, sebenarnya Rangga sempat diminta ibunya untuk lari.

Namun, bocah tersebut memilih untuk melawan pemerkosa ibunya hingga akhirnya tewas di tangan pelaku.

“Allah SWT lebih sayang kepadanya, sehingga memanggilnya duluan dari pada kami.”

“Selamat jalan nak, kami akan selalu merindukanmu nak,” ucap ayahnya kembali menangis.

Fadli berharap penegak hukum memberikan hukuman yang seberat-beranya kepada pelaku (****)