PILARBANGSANEWS.COM.JAMBI,-

Nampaknya sampai saat ini harus diakui, kalau tak seorangpun bisa bercerita tentang sejarah Jambi secara utuh. Naifnya lagi, tak jarang para guru yang salah menjelaskan ketika siswanya bertanya mengenai sejarah Jambi. Separah itukah?

Dalam nuansa keagamaan seperti itu rasa-rasanya dimensi kesejarahan perlu di kedepankan agar kita dapat memetik hikmah dari rentetan sejarah itu sendiri sebagai mata rantai keberadaan kita dewasa ini. Rangkaian sejarah seperti itu cukup relevan untuk diungkap.

Junaidi T.Noor salah seorang pecinta sejarah Jambi, mengharapkan kedepankan reknik-reknik sejarah Jambi ini dapat ditata sedemikian rupa, sehingga dapat terangkai dalam suatu penulisan buku sejarah yang komprehensip dan menjadi bahan rujukan dari berbagai penelitian kesejarahan di bumi sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

Dengan kesadaran kesejarahan tersebut maka berbagai kegelapan dan keterpurukan benang merah sejarah Jambi akan dapat terungkap dengan baik.

Kita tidak akan ngoyo untuk bersikeras bahwa Sriwijaya itu berada di Jambi, tetapi dari bukti-bukti peninggalan arkeologi mulai dari kawasan pesisir pantai Jambi hingga ke huluan DAS Batanghari, terpendam bukti-bukti kejayaan dan kebesaran kerajaan Melayu Jambi yang diantaranya Holing, Tebu Po, Moloyeu/Melayu/Moloyeir, Kuntala atau Swarnabhumi, yang membentang dari abad ke III sampai XIV. Keberadaan kompleks percandian Muarajambi yang seluas 3.981 H, dengan hampir seratus buah candi dan menapo, tidaklah mungkin dipunyai oleh kerajaan lokal. 

Seribu pendeta Budha untuk ukuran kawasan percandian Muarajambi rasa-rasanya masih terlalu kecil. Jambi boleh berbangga kawasan percandian terluas di Asia Tenggara adanya di Jambi.
ANDRA USMANEDI

By Pilar