PILARBANGSANEWS. COM. JATIM,–Menyikapi politik seperti pemilu atau pilkada sebelum-sebelumnya jelas tidak akan membawa dampak perubahan, apalagi perbaikan nasib. Justru jika tidak mau berubah malah akan menjadi sasaran gusur bahkan di pinggiran untuk tahap selanjutnya. Oleh karena itu, Wong Cilik sendiri harus melek politik, mengenal siapa calon gubernur dan wakil gubernur yang memang track record-nya benar-benar konkret membela kepentingan Wong Cilik atau Orang kebanyakan bukan orang tertentu bahkan golongan tertentu,Minggu 14 Januari 2018

Melihat pengalaman masa lalu satu referensi bagaimana membangun sikap politik Wong Cilik, yang di antaranya agar menolak, melawan, dan melaporkan segala bentuk suap, baik itu berbentuk money politic maupun serangan fajar.

Wong Cilik sudah harus sadar bahwa hiburan saat kampanye, senyuman saat merapat ke komunitas Wong Cilik dan kaos serta uang yang diberikan saat kampanye maupun yang disebut serangan fajar justru adalah pemantik penderitaan lebih besar yang pasti terjadi di masa mendatang. Belajarlah dari masa lalu hingga hari ini bagai mana pelaku pelaku politik bermanuver, seolah-olah ada harapan, tetapi, faktanya justru diwarnai banyak penggusuran serta menyingkirkan wong cilik dan pembodohan serta kecenderungan hanya memihak golongan dan kelompok serta orang orang tertentu,

Sisi lain, perhatian terhadap media. Ini juga penting agar Wong Cilik tidak lagi menelan mentah-mentah tayangan dan berita-berita soal calon gubernur dan wakil gubernur yang pro Wong Cilik. Cukuplah lihat data bagaimana selama ini sang calon memperlakukan Wong Cilik. Inilah sikap yang mesti diambil agar nasib Wong Cilik benar-benar bisa berubah. Dengan kata lain, cerdaslah menggunakan hak politik sebagai Wong Cilik agar tidak terus menjadi korban orang-orang licik dalam politik.

Gunakanlah hak politik Wong Cilik secara cerdik. Dalam politik ada tiga hak yang dimiliki Wong Cilik. Pertama, hak memilih dalam pemilu. Kedua, hak menyatakan pendapat dan berasosiasi. Ketiga, hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan lembaga-lembaga negara yang menyimpang dari kewenangannya.

Kini saatnya Wong Cilik melek politik, terutama bagi bangsa Nusantara tercinta, Jangan lagi terkecoh dengan ungkapan dikotomis para sekularis yang mengatakan agama jangan dibawa-bawa ke politik. Banggalah kita sebagai bangsa besar Nusantara

Dengan demikian, di era digital, Wong Cilik jangan lagi menjadi pihak yang pasif. Aktiflah melakukan diskusi atau membentuk aliansi agar perubahan yang menjadi mimpi-mimpi besar Wong Cilik benar-benar dapat diwujudkan. Sebab, kini era dimana Wong Cilik tidak bisa mengunyah brand partai politik. Tetapi butuh langsung track record dari siapa yang dicalonkan untuk memimpin Wong Cilik. Jika tidak, selamanya Wong Cilik akan jadi tumbal para politisi yang picik dan Wong Licik.(jsh)

By Pilar