Pilarbangsanews
.com.Pakanbaru.-

Seperti postingan terdahulu,  Zalika  sampai dirumah dari rumah sakit, Sabtu sore sekitar pukul 15:45 WIB. Pada malam pertama dirumah si kecil semalaman tidak tidur. Maunya digendong terus. Baby Neonatal  meskipun  belum cukup umurnya sebulan, ternyata sudah bisa merasakan enaknya berada dalam  gendongan.

“Kak, jangan diajar Zalika itu berada dalam  gendongan trus. Nanti kalau dia dah dapat rasa tangan (digendong), dia maunya digendong terus. Kalau dia diam taruh aja ditempat tidurnya,” ujar perawat mengingatkan aku saat Zalika dulu berada dalam perawatan diruangan  NICU di rumah sakit.

Benar juga apa yang dikatakan suster itu,  Aku dan suami pada malam pertama tidak bisa  tidur. bergantian menggendongnya. Sebentar sebentar dia menangis tak cukup 5 menit setelah ditaruh ditempat tidurnya, dia bangun dan menangis lagi. 
Zalika baru diam dari tangisnya kalau sudah diambil lagi. 
Tidurnya seorang baby rupanya hampir sama dengan tidurnya orang dewasa. Maksudnya kalau kita orang dewasa malam bergadang (tidak tidur) maka pada siang hari kita akan mengantuk. Begitu juga rupanya Zalika, pada malam pertama dia begadang, siangnya sehabis dimandikan Oma tidur pulas bak seekor musang.

Kasih Sayang Ayah

Selama ini suamiku orangnya kalau tidur suka pulas, mungkin karena siangnya merasa keletihan saharian bekerja. Namun kebiasaan tidur pulas ini ternyata bisa berkurang semenjak baby yang sangat kami harapkan keberadaan sebagai buah kasih sayang kami berdua lahir ke dunia.

Kata suamiku, kita baru tahu dan  dapat  merasakan kasih sayang orang tua apabila kita sudah diberikan titipan oleh Allah SWT. Sebelumnya suamiku mengira bahwa papa (papa martua) kurang membrikan kasih sayang. Ada perbedaan cara pemberian  kasih sayang diantara papa dengan Mama.

Perbedaan kasih sayang itu sesungguhnya tidaklah ada, yang membuat berbeda itu adalah karena si ibu  orang yang melahirkan dan menyusui kita. Rasa sakit yang amat sangat serta satu kali erangan  saat  melahirkan yang ditanggung seorang ibu tidak akan lunas terbayarkan walupun sianak menggendong ibunya 7 kali menggilingi Ka’bah. Karena itu pula nabi Muhammad SAW mengingatkan kepada kita agar menyayangi ibumu, ibumu dan ibumu, baru kemudian bapakmu.

Seorang ayah penentu dan pengambil keputusan dalam rumah tangga. Ayah seorang eksekutor. Untuk menghadapi kebandelan seorang anak kebanyakan ibu ibu tidak tega mengambil keputusan akhir secara sendiri, pelaku eksekutor selalu dilimpahkan kepada ayah.

Ketika bermasalah si anak  dihadapan siibu tapi karena sifat kewanitaannya siibu seolah olah tak berdaya untuk memberikan hukuman. Ibu menunggu si ayah pulang kerja melaporkan bahwa anaknya tadi begini begitulah. 
Mendengar laporan itu siayah yang merasa kecapean pulang kerja merasa terprovokasi mendengar laporan siibu, sehingga tanpa proses tanya dan anak tidak diberi kesempatan membela diriz siayah langsung memberikan hukuman. Ini lah yang menyebabkan sianak merasakan kurangnya rasa kasih sayang ayah.

Tapi walupun seorang anak laki laki merasakan ada perbedaan itu, dia baru tahu bahwa ayahnya juga memiliki rasa kasih sayang yang tak kalah intensitas dibanding ibu yakni setelah si anak tadi memiliki seorang buah hati. Begitu pengakuan ayah Zalika saat aku mulai hamil. Dan keyakinan itu bertambah lagi setelah Zalika ada di pangkuannya.
(Tutri Reski Nadya)

By Pilar