PILARBANGSANEWS.COM,- Mungkin didalam hati pembaca ada tanya untuk saya, kenapa ya cerita tentang Zalika ini ditulis terus secara  bersambung. 


Seperti tidak ada kerjaan yang lain atau mungkin juga dengan berbagai macam komentar lainnya.

Biar bisa pembaca tahu alasannya kenapa aku dan papa martuaku  menulisnya, karena Zalika itu terlahir sebagai baby yang menderita Hidrosefalus. 

Apapun nama penyakitnya jelas tidak satupun penyakit itu menyenangkan sipenderitanya. Kalau penyakit itu ada pada buah hati kita, pasti orang tua merasa khawatir.

Saya dan suami berusaha mencoba mengikis habis rasa khawatir itu, menggantinya dengan sebuah keyakinan penuh bahwa “sebuah hati” kelak akan tumbuh sebagaimana anak anak normal lainnya. Apalagi papa (martuaku) beliau sangat yakin Zalika akan tumbuh sebagai bayi normal meski perkembangan syaraf syaraf otak dikepala Zalika sempat terciderai oleh himpatan tumpukan air yang tidak bersirkulasi akibat terjadi sumbatan dibabagian kepalanya. 

Papalah orang yang mewarnai sikap kami, papa selalu memberikan motivasinya yang sangat dominan  pada kami (aku dan suami) harus kuat dan yakin tak akan terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. 

“Kita harus “Haqul Yakin”, tidak boleh separoh separoh, bahwa doa dan permohonan kita pasti dikabulkan Allah. Menurut papa, Allah hanya akan mengabulkan permohonan orang yang benar benar meminta dan percaya doanya itu dikabulkan oleh Allah Yang Maha Pengasih,” begitu kata papa.

Bahkan saat kami mendapat kabar dari dokter langganan ku bahwa baby yang kukandung menderita Hidrosefalus, papa berada di kampung  kami minta secepatnya  datang, untuk mendampangi aku dan suami mendengar penjelasan dokter ahli kandungan itu untuk mengambil keputusan dioperasi atau tidak. Meski usia kehamilan saat itu seperti yang pernah  ditulis, masih belum cukup bulan. 

Sebagai orang tua kami, papa martua ku, memang OK kalau bertanya, dari hal sekecil apapun papa bisa menciptakan pertanyaan pertanyaan yang diajukan kepada dokter. Sehingga dengan mendengar pertanyaan papa dan jawaban dokter aku yang biasanya juga sangat hoby bertanya, bisa menjadi puas. Pertanyaan ku terwakili dengan pertanyaan papa, jika aku yang bertanya walupun itu ada dalam daftar pertanyaan yang ada dalam pikiran ku mungkin tak akan mampu untuk ku sampaikan kepada dokter.

Maka dari itu beberapa hari sebelum aku divonis oleh dokter harus menjalani operasi Caesar mengeluarkan si baby, papa dan pama sudah berada di dekat kami, sampai Zalika diperbolehkan pulang setelah melewati tindakan opraratif untuk penyembuhan penyakit Hidrosefalus itu.

Kini Zalika sudah 11 hari dalam perawatan kami. Dirumah, kami ditemani oleh ibu dan papa kandung ku ditambah Genta (adik suamiku) pak citnya Zalika. Sementara  papa dan mama (martua) ku sudah seminggu pulang kampung. Sebab beliau harus pulang mengingat rumah dikampung tidak bisa ditinggal lama lama, perlu perawatan pula.

Sementara ibu dan papa ku, sejak lahirnya Zalika  cucu pertama  mereka, ku perhatikan sangat bahagia, karena diusia senja ini mereka baru dikaruniai seorang cucu yang telah lama menjadi idaman mereka dari aku satu satunya putri tunggal mereka.

             

                   ooOoo
Kondisi kondisi ini lah yang memicu semangat aku untuk menulis catatan terkait perkembangan Zalika hari perhari yang Insya Allah akan diteruskan sampai Zalika nanti tumbuh  dewasa.

Walupun kondisi Zalika demikian, aku akan mencoba merawatnya dengan cara perawatan baby baby normal lainnya. Tidak harus diperlakukan terlalu di manja manjakan sebab sikap  terlalu mencemaskan itu bisa merusak terhadap perkembangan jiwa Zalika kelak.

“Yang penting Zalika nanti akan diberi tahu bahwa di kepala tersambung slang untuk melancarkan sirkulasi air didalam kepalanya,” kata papa martuaku beberapa hari setelah Zalika menjalani operasi.
Sebagai catatan hari kemaren Senin (4/9),  Zalika kami bawa ke Rumah Sakit dimana dia dirawat untuk memeriksakan kondisi terakhir Zalika kepada dokter yang menanganinya.
Kata dokter ahli bedah syaraf itu, kondisi si pemilik mata Korea ini, cukup prima. Begitu juga dokter spesialis anak, mengatakan hal yang serupa.

Alhamdulillah
……

Tutri Reski Nadia

By Pilar