Sebaiknya baca dulu bagian 30 klik link dibawah ini;

Pemuda Arab; Yang Penting Sholat Tak Peduli Sekalipun Dijalanan (30)

Agus 2

Batang Kapeh, PilarbangsaNews,– Hari ini Sabtu tanggal 7 Desember 2019. Sekitar pukul 01:05 waktu Mekkah, saya tersentak dari tidur.  Mata tak mau lagi di pejamkan, setelah tadi marasa nyenyak tidur sejak pukul 21:05 waktu Mekkah.

Saya ke kamar mandi dan langsung mandi keramas dangan air hangat. Segar rasanya.

Hj-HMDS

Sehabis mandi saya bangunkan  papi Doly; “Doly ayo bangun kita ke masjid.”

“Pukul berapa sekarang, pa,” tanya Papi Doly.

“Baru sekitar pukul 1 lewat 10 menit, ” Jawab saya.

“Doly ikut, ndak, ” tanya saya.

“Ya tunggu pa,” kata Papi Doly masih dalam posisi tiduran untuk mengembalikan keseimbangannya. Sebab kalau langsung bangun dan berdiri bisa sempoyongan.

Sementara itu saya keluar kamar,  membangunkan si nyonya besar dan mengajaknya ke Masjid.

“Hajjah…., Hajjah bangun, ikut ndak ke Masjid, ayo ke masjid mari kita kumpullan pahala sebanyak-banyaknya,” kata saya membangunkan may wife.

Seletih-letihnya dia, kalau tidur tetap tidurnya tipis. Maksud dari tidur tipis itu adalah tidur yang mudah bangunnya.  Maklumlah semasa belum jadi PNS, semasa gadis dulu dia pernah jadi perawat di RS Yos Sudarso Padang.

Kalau Yos Sudarso itu perawat yang jaga malam tidak boleh tidur, jika kedapatan oleh suster bisa diberhentikan.

“Jadi kami tidurnya sambil duduk, terdengar suara sepatu jalan, itu langsung terbangun, ” kata si Bebeb dulu pernah cerita sekali waktu.

Makanya kalau dia dibangunkan, dia akan  cepat bangunnya.

” Iya aku ikut.  Tapi aku mandi dulu, ” jawab dia dari dalam kamar yang terletak bersebelahan dengan kamar saya.

Sementara menunggu si bebeb siap berangkat,
Pak Rasyidin Malin Kayo dan Pak Amirudin Dt Rajo Intan juga saya bangunkan. Kedua kakek kakek ini mengatakan nanti saja menyusul kalau sudah pukul 4:00 waktu Mekkah.

Diluar hotel di tengah jalan belum banyak jema’ah yang pergi ke masjid,  karena  jam baru menunjukkan pukul 01:45 waktu Mekkah. Tapi bukan  berarti tidak ada.  Ada cuma tidak ramai.

Sampai di pelataran Ka’bah, kami mulai melaksanakan tawaf mengelilingi Ka’bah berlawan arah jarum jam.

Ka’bah tak pernah sepi dari jema’ah atau orang yang melaksanakan umrah pada bulan tidak musim haji ( bulan  Zulhijjah).

Malam itu masih terlihat ramai orang yang berebutan ingin mencium Hajar Aswat.

Saya, mamanya anak-anak  dan papi Doly melakukan tawaf sambil memanjat do’a kepada ALLAH SWT.

Papi doli nampak sangat bersemangat mengikuti prosesi tawaf. Apa yang dikerjakan orang diapun ikut melakukan. Orang megang dinding Ka’bah diapun ikut mengusap usap dinding Ka’bah itu sambil memanjat do’a do’a sesuai dengan  keinginan.

Papi Doly pakai baju hitam, usap-usap dinding Ka’bah sembari berdo’a

Baru 2 putaran Papi Doly, mentipkan handphone dan tas sandangnya ke saya. Dia ingin mencoba lagi mencium Hajar Aswat.

Kemaren tanggal 6/12/2019, dia sudah berhasil mencium Batu hitam itu,  tapi malam ini dia ingin mengulangnya lagi.

Sementara saya dan mamanya papi Doly, tetap melaksanakan tawaf. Saat kami berada didekat Multazam kami berdo’a meminta kepada Yang Maha Pemberi sesuai dengan keinginan masing masing.

Multazam adalah tempat yang paling mustajab untuk berdo’a, terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’ba.

Dikutip dari Republika, menurut Atiq bin Ghaits Al-Biladi dalam Fadhail Makkah wa Hurmat al-Bayt al-Haram, panjang antara pintu Ka’bah dengan hajar aswad sekitar empat hasta.

Inilah tempat yang paling diburu jamaah haji dan umrah setelah mengerjakan thawaf. Saat sekeliling Ka’bah dipenuhi jamaah, tak mudah untuk mencapai Multazam.

Setiap orang berusaha untuk mencapai tempat yang mustajab itu. Jamaah haji dan umrah pun berdoa dengan penuh kekhusyukan.  Bersimpuh memohon ampunan dan memanjatkan berbagai harapan kepada Sang Khalik.

Selain bersimpuh dan berdoa di Multazam, jamaah pun berlomba menggapai pintu Ka’bah. Mereka memeluk rumah Allah SWT itu sambil memanjatkan doa. Ada pula yang menangis, bahkan tak sedikit yang histeris.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah terdapat Multazam. Tidak seorang pun hamba Allah SWT yang berdoa di tempat ini, kecuali dikabulkan doanya.” 

Saking spesialnya tempat ini, Rasulullah SAW sempat mendekapkan wajah dan dadanya di Multazam sambil memanjatkan doa. Kisah itu tercantum dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan Ibnu Majah.

Menurut Atiq, Multazam juga menjadi tempat yang dipilih Rasulullah SAW  untuk menunaikan shalat.  Seorang Quraisy pernah mendengar Saib bertanya, ‘’Dimanakah engkau melihat Rasulullah SAW melakukan shalat? Lalu dia menunjuk ke Ka’bah, dekat rukun (sudut) yang sebelah kiri, yang termasuk di dalamnya hijir Ismail, kira-kira empat atau lima hasta.’’

Rasulullah SAW  juga pernah memanjatkan doa khusus di Multazam, ”Ya Allah yang memelihara Al Bait al Atieq (Ka’bah) merdekakanlah kami, bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, saudara-saudara kami dan anak-anak kami dari belenggu api neraka Wahai Yang Mahamurah, Yang Mahamulia, Yang Mahautama, Yang Maha Pengarunia, Yang Maha Pemberi Kebakan. Ya Allah jadikanlah segala urusan kami mendatangkan kebajikan, jauh dari segala kehinaan dunia dan siksa akhirat.”

”Ya Allah, aku ini hamba-Mu dan anak hamba-mu yang sedang berdiri di bawah rumah-mu di Multazam, aku menghadap dan bersimpuh di hadapan-Mu. Aku mengharapkan rahmat-Mu, takut akan siksa-Mu, wahai Pemberi Kebajikan. Ya Allah aku memohon kepada-Mu terimalah zikir-ku (pada-Mu), hilangkanlah dosa-dosaku, lancarkanlah urusanku sucikanlah hatiku, sinarilah kuburku, ampunilah dosaku dan aku mohon pada-Mu berikanlah derajat tinggi di surga.” (HR Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali).

Sekitar 30 menit setelah papi Doly menitipkan tas dan handphonenya, dia kembali menemui kami. “Berhasil?” Tanya saya.

“Alhamdulillah pa, Doly tadi kembali diberi hidayah untuk mencium Hajar Aswat. Alhamdulillah,” katanya dangan nafas terengah-engah.

Selesai melaksanakan tawaf dan mendo’akan  diri sendiri, ke 2 almarhum orang tua, anak anak, kelaurga dekat,  sahabat, kemudian kami melaksanakan sholat sunah Qiyam Mullaik.

Saya sudah tak ingat lagi pesan do’a, apakah ada secara khusus saya mendo’an anak saya Mellenial Minang Menilai (3M ). Saya lupa kerena sudah berlangsung 11 bulan yang lalu. Catatan perjalanan Umrah ini saya tulis pagi ini Minggu (25/10/2020).

Tapi walupun tidak secara khusus  ada do’a untuk teman teman, ada do’a sapujagat yang saya ucapkan yakni kabulkan semua pesan do’anya yang saya bawa dari tanah air.

Bersambung.